LPH #113

Episode 113
Alien

(POV Yandi)

 

“Mbak, aku pinjem motornya bentar ya,” kataku.

“Mau kemana ?”

“Ke rumah teman.”

Mbak Asih yang tadinya terus menatap ke arah layar TV saat kuajak bicara, kemudian menatapku. “Keluyuran terus kamu Dek. Gak ada PR ?”

“Udah beres semua kok Mbak tugas dan PR nya,” kataku serius. Aku memang sudah “menghabisi” semua PR sekolahan sore tadi dan sengaja kukerjakan di ruang tengah agar terlihat oleh Mbak Asih sehingga memperkuat jawabanku. Sebenarnya aku bisa sih keluar naik Gojek tapi sama saja mesti izin dulu ke Mbak Asih. Jadi kupikir sama-sama mesti minta izin, mending sekalian aku pinjem motor Mbak Asih. Karena tempat pertemuannya gak terlalu jauh dari rumah.

“Mau ke rumah teman atau mau ke kosan Dini ?” tanya Mbak Asih.

Aku malah kaget sendiri mendengar pertanyaan tak terduga dari Mbak Asih.

“Eh, ke rumah Samsul Mbak, mau pinjem Komik,” kataku auto berbohong. “Kok bisa sampai ke Dini sih.”

Mbak Asih tersenyum simpul. “Dini itu teman biasa aja kan?”

“Iya, teman Mbak…”

“Kenal dari mana ?”

“Di kenalin sama Vinia, Dini kan temannya Vinia, kenapa memangnya ?” lagi-lagi aku membohongi Mbak Asih. Aku merasa tidak perlu bercerita kepada Mbak Asih perihal kejadian sebenarnya bagaimana aku mengenal Dini.

“Oh, enggak apa-apa, Mbak cuma nanya. Cuma saran dari Mbak sih, ada kalanya kita mesti tahu diri, itu saja. Kunci motor dan STNK ada di atas meja kamar Mbak. Jangan pulang malam-malam,” pesan Mbak Asih lalu kembali menatap ke arah layar TV yang sedang menampilkan acara dangdut di salah satu stasiun TV swasta.

Mas Sulis rupanya sudah pulang dan sedang tidur saat aku masuk ke kamar Mbak Asih. Aku mengendap perlahan-lahan mengambil kunci motor dan STNK motor yang ada di atas meja. Mas Sulis belakangan ini dalam seminggu bisa tiga sampai empat hari ke luar kota karena di minta mengawasi pekerjaan pembangunan perumahan baru di sana. Makanya meski di kamar Mbak Asih ada TV, Mbak Asih lebih memilih menonton TV di ruang tengah agar tidak menganggu istirahat Mas Sulis.

Dalam perjalanan menuju tempat pertemuanku dengan Vino, aku terpikir lagi perkataan Mbak Asih yang menurutku agak sedikit aneh.

“..Cuma saran dari Mbak sih, ada kalanya kita mesti tahu diri, itu saja…”

Sepertinya Mbak Asih kurang menyukai kedekatanku dengan Dini. Padahal waktu Dini datang ke rumah kami, hari Minggu siang. Mbak Asih bersikap ramah kepada Dini. Sebenarnya hari Minggu itu, Mbak Asih tidak membuat menu opor ayam tetapi paginya aku bilang ke Mbak Asih kalau ada temanku yang mau datang ke rumah karena ingin makan Opor Ayam buatannya. Aku bilang temanku itu kepengen opor ayam karena aku sering pamer foto makanan di Status Whatsapp.

Mbak Asih cuma geleng-geleng kepalan dan akhirnya menyisihkan beberapa potong ayam untuk di olah Opor khusus untuk temanku itu, bukan untuk di jual. Jadi ya berasa spesial deh itu Opor Ayam. Saat Dini kemudian datang ke rumah, naik mobil Mercy, Mbak Asih terkejut. Aku juga terkejut sih karena Dini datang dengan menaiki mobil mewah yang kemungkinan adalah miliknya. Mbak Asih mengira teman yang akan datang paling teman sekolahan. Mbak Asih sekilas dari ekspresinya makin terkejut saat Dini mengenalkan diri bahwa dia adalah Mahasiswi Psikologi Semester 3 Universitas Negeri XXX yang berasal Sulawesi.

Mahasiswi perantauan tetapi bawa mobil Mercy mengambil jurusan Psikologi di tambah penampilan Dini yang memang wow, membuat Mbak Asih langsung paham kalau Dini itu anak orang kaya. Super duper kaya. Mungkin Mbak Asih heran darimana aku bisa punya teman seperti Dini. Hal ini juga yang sepertinya membuat Mbak Asih kepikiran denganku. Nasihatnya seakan mengatakan dengan tersirat bahwa aku dan Dini tidak cocok kalau hubungan kami lebih dari sekedar pertemanan dan mungkin agar membuatku tidak memiliki harapan aneh-aneh dengan Dini.

Harapan kalau ketinggian, jatuhnya bisa sangat sakit.

Singkatnya, aku dan Dini tidak cocok karena perbedaan, dalam tanda kutip, kasta sosial.

Aku no komen sih.

Stereotype Mbak Asih kepada Dini seakan dia itu anak orang kaya yang manja dan ngapain juga bergaul denganku, dari keluarga sederhana, yang masih kelas 2 SMA pula. Dari beberapa kali pertemuan dan mengobrol dengan Dini, Dini itu tidak “semanja” yang Mbak Asih kira. Bahkan Dini saja gak ragu ambil kerja part-time di BOWIE. Dini kerja part-time jelas bukan karena mengharap upah tetapi karena Dini suka kesibukan dan bertemu, berinteraksi dengan orang-orang. Ya dia tipikal cewek supel. Kadang ia juga pergi ke klub malam dengan teman-temannya.

Tapi kalau di pikir omongan Mbak Asih juga ada benarnya. Gak mungkin Dini punya pikiran “aneh-aneh” denganku. Mungkin saja, ia bersikap terbuka denganku karena kita memang cocok sebagai seorang teman. Atau malah Dini menganggap aku sebagai seorang adik.

Jangan-jangan memang aku nya yang rada ge’er kepada Dini. Di balik sikap ramah dan perhatiannya, dia memang menganggapku sebagai adik. Apalagi aku masih inget betul tentang nasehatnya saat aku dengan santai menjawab, aku belum punya pilihan mau kuliah jurusan apa dan di mana.

Sepertinya memang ada benarnya omongan Mbak Asih tentang Dini.

Pikiran-pikiran tentang Dini sepanjang perjalanan membuat tanpa sadar akhirnya aku sudah sampai tujuan.

BEERHAUSE.

Terakhir aku kesini, bersama dengan mendiang Axel dan Zen, saat ia mencoba membantuku menyelesaikan masalah dengan Puput kala itu, ketika video perkelahianku dengan Puput tersebar dan membuat tensi antara SMA NEGERI XXX dan SMA SWASTA XXX memanas, akibat ulah Eko. Ada Toni, Vino juga pada saat itu, sementara kami cuma bertiga di sarang anak-anak SMA SWASTA XXX.

Berselang enam bulan kemudian, kondisinya sekarang sudah sangat jauh berbeda.

Axel sudah tiada, Toni sudah lulus dan kabarnya sudah pergi dari Kota XXX. Tinggal aku dan Vino yang menjadi penerus keduanya sebagai top dogs di sekolahan kami masing-masing.

Baru juga aku melangkah masuk, aku merasakan ada banyak tatapan mata yang menusuk kearahku. Dan benar saja di beberapa meja yang ada di lantai satu, aku melihat para penghuninya melayangkan tatapan mata permusuhan yang sangat kental. Sebuah indikator yang sangat kentara bahwa mereka adalah anak-anak RAGE. Sementara meja lain yang penghuninya asyik ngobrol, adalah pengunjung biasa yang tidak ada sangkut pautnya RAGE atau SMA SWASTA XXX.

Saat aku hendak menuju lantai dua, tempat dimana Vino sedang menungguku, tiba-tiba ada seseorang yang berdiri dari bangku lalu berjalan dan berhenti tepat di tengah jalan alias menghalangiku. Kedua tangannya masih tetap berada di saku celananya.

Anak ini terlihat masih belia lebih muda dariku, wajahnya Babyface namun piercing di telinga kirinya membuat kesan Babyface hilang di tambah dengan rambutnya yang pendek dengan sedikit poni pun di semir blonde. Ia menatapku sembari menyunggingkan sedikit senyum mencibir. Tingginya hampir sama denganku. Badan dan posturnya juga biasa, cuma penampilannya sedikit eksentrik. saat aku hendak bergerak ke kiri untuk terus berjalan, dia ikut bergeser ke kiri. Saat aku bergeser ke kanan, dia juga ikut bergeser.

“Elo yang namanya Yandi ?” tanyanya ketika pada akhirnya aku berdiri diam, karena ia jelas-jelas memang menghalangiku.

“Kata orang, ciri orang sukses itu ketika tanpa memperkenalkan diri, orang lain sudah tahu nama kita,” kujawab diplomatis.

“Hahahaha !!”

Kubiarkan ia tertawa lebar hingga ia selesai. “Badut SMA NEGERI XXX memang lucu. Imej top dogs SMA NEGERI XXX ternyata jauh dari bayangan gue.”

“Yah, meskipun seekor singa di jadikan bintang utama di sebuah pertunjukkan sirkus dan nampak pandai memainkan akrobat serta penurut, kadang orang-orang lupa, binatang penurut tersebut tetap seekor singa sang raja rimba. Singa tersebut untuk sementara menurut saja perintah tuannya sembari menunggu dengan sabar, mengendus peluang untuk menunjukkan karakter aslinya,” aku menjawab dengan sebuah pengandaian sederhana.

“Pffft ! Tidak ada seekor singa yang mengaku dirinya singa, kecuali dia adalah seekor domba tersesat yang memakai topeng singa,” katanya sembari memajukan wajahnya sehingga kini kami berdiri sangat dekat, bahkan sampai-sampai dahi kami saling bersentuhan.

“Hanya seekor domba yang tahu bahwa teman dombanya bisa menyamar jadi seekor singa. Domba tersebut mewarnai bulu rambutnya dengan warna blonde, hendak menyerupai bulu singa, tanpa mengetahui bahwa bulu domba dan bulu singa itu sangat jauh berbeda,” kujawab dengan santai dengan nada suara meremehkan.

Tatapan matanya terasa panas, emosinya terpancing.

“ALOY !!! Biarkan dia lewat ! Vino sudah menunggunya di atas !”

Aku mendengar seseorang berteriak dari arah tangga. Aku melihat Alan yang berteriak ke arah kami. Si blonde menengok ke belakang dan menyahut. “Cuma kenalan doang kok Bang,” dia lalu minggir memberikan jalan kepadaku. “Silahkan,” katanya sembari berlagak merentangkan satu tangannya mempersilahkan aku lanjut.

“Pertemuan kita selanjutnya akan lebih…Seru..” katanya saat aku melewati dirinya.

Aku menoleh ke arahnya dan berkata,“Oh domba itu punya nama Aloy, boleh juga. Kapan-kapan kita ngobrol lebih panjang. Untuk sekarang ini aku mesti menemui panutanmu dulu…”

Tanpa menunggu reaksi Aloy, aku lalu berjalan menuju tangga yang akan membawaku ke lantai dua dimana Vino sudah menungguku dan di meja atas sudah terhampar banyak siasat untuk menjeratku.

Di lantai dua, ternyata ada lebih banyak anak-anak RAGE. Beberapa wajah yang cukup familiar seperti Ucok, Jalu, Bayu ada di sini semua. Sementara di ujung sana, terlihat Vino sedang berbincang dengan seseorang. Aku baru kali ini melihatnya, namun aura dan tatapannya menunjukkan dia bukan bajingan kemarin sore.

Vino tersenyum ketika melihat kedatanganku, ia lalu meminta orang yang bersamanya untuk berpindah tempat duduk mungkin, karena orang tersebut langsung berdiri menenteng botol minumannya. Ia terus saja menatapku hingga kami berselisih jalan, ia tidak mengatakan apa-apa, terlihat tenang namun terasa auranya menebar ancaman. Penampulannya agak funky.

Alan berjalan agak di belakangku, ia sepertinya memberikan kode karena kemudian ada beberapa anak RAGE pindah meja ke lantai satu, sehingga kini di sini tersisa tim inti RAGE, termasuk beberapa senior kelas 3. Meja Vino berada di pojok dan agak terpisah dengan meja yang lain. Aku segera mengambil tempat duduk di depan Vino, kini kami berdua akhirnya bisa duduk satu meja. Di atas meja sudah ada beberapa kaleng bir dan asbak yang berisi banyak abu roko dan beberapa puntung rokok.

“Mau minum apa lo ?” tanya Vino.

Belum sempat aku menjawab pertanyaannya, Vino lalu menyela, “Ah iya, elo kan gak doyan bir. Haram. Gue udah siapin minuman khusus buat elo. Bay, bawain jamuan khusus tamu kita !” teriak Vino.

“Sudah di siapkan bos !”

Tak lama kemudian Bayu datang dan meletakkan satu botol air mineral di hadapanku. “Maaf menunggu, silahkan di nikmati Zam-Zam mineral Water, langsung di impor dari Arab demi kepuasan tamu spesial yang konon sangat menjunjung tinggi produk halalan nan thoyibah,” jelas Bayu.

Aku tidak tahu ini cuma dummy atau memang zam-zam asli, tapi yang jelas dari awal mereka memang ingin mem-bully-ku.

“Kalau bir gak doyan karena haram, tetapi kalau daging cewek beda cerita, tetap di sambar juga, ye kan..” sahut yang lain.

“Yang lo maksud itu Dita, anak kelas 2, mantannya Yandi ?”

“Kenapa di perjelas woi ! sekarang daging Dita yang kenyal jadi jatahnya Puput ! ahahahaha !”

“Hahahahahah ! kok mau ya Puput terima daging bekasnya Yandi…”

“Bacot, lu di kasih Dita juga pasti lo sikat !”

“Ehm, iya sih, siapa juga yang gak mau sama daging dada Dita yang kenyal dan kayaknya makin hari makin besar itu tokednya. Toge cuy !”

“Puput aja betah banget mainan bola basket, apalagi mainin bola-bola toket punya Dita, udah pasti sering kena remas tuh tiap hari, makanya jadi cepat gede itu toket Dita.”

“Maklum masih dalam usia perkembangan, jadi lagi gampang-gampangnya di olah itu sepasang buah dada. Yand, puting payudara Dita warna item, coklat atau pink nih ? penasaran gue.”

“Haha gebleg ! daripada nanya, mending cari tahu sendiri..”

“Yaa lo cari tahu sendiri dah sana, paling lo kena sikat Puput.”

“Justru itu, gue mau ngetest itu Puput nyalinya memang sudah menguap atau bagaimana.”

“Yadah lo urus Puput, biar gue yang urus Dita.”

“Anjing, enak bener lo taik !”

Terdengar suara tawa berderai dari arah anak-anak RAGE. Mereka sangat mengintidasi tetapi ini bukan kali pertama untukku sendirian masuk ke sarang musuh. Jadi aku masih biasa saja. Meski kupingku sangat panas karena mereka sudah membawa-bawa nama Dita dalam upaya mereka memancing emosi. Aku coba bersabar.

“Terimakasih, maaf merepotkan,” kataku kepada Bayu yang menyengir lebar dan masih berdiri di dekatku. “Masih ada Zam-zam lagi gak satu botol ? mau kuberikan ke Pak Tomo. Nanti akan kukatakan kepada beliau ini minuman darimu sebagai bentuk permintaan maaf sudah merusak kaca mobilnya..”

Bayu yang tadinya tertawa lebar langsung menutup mulut dan terdiam.

“Pak Tomo itu gak galak kok, cuma sadis saja. Kamu masih beruntung kemarin, mood beliau sedang tidak ingin meributkan masalah kecil. Coba kalau tidak, paling kamu muntah-muntah sampai susah bernafas karena perut kena sodok. Buat kami murid SMA SWASTA XXX itu hal yang biasa sih, makanan sehari-hari, entah buat anak sekolah lain…” bukan hanya menyindir Bayu, tapi sindiran ini juga kuarahkan kepada Vino dan anak RAGE yang berbicara di belakangku.

Aku membuka penutup botol dan meneguk isinya. Entah apa ini air Zam-Zam asli tetap rasanya gak jauh beda dengan air mineral pada umumnya. “Terima-kasih sekali lagi, selama aku berbicara dengan Vino, kamu bisa menitipkan Zam-Zam untuk Pak Tomo, kepadaku.”

“Hahahaha !” Vino tertawa. Ia mengibaskan tangan kiri seperti memberi kode meminta Bayu untuk pergi. Bayu menurut dan melengos pergi.

Seperti ini cara Vino memperlakukan teman-teman satu angkatannya ? ah mungkin mereka semua tidak di anggap teman oleh Vino, melainkan sebagai followers atau bidak catur yang bisa ia perintah sesuak hati.

“Nah sekarang, kita bisa berbicara dengan santai. Yand, lo kesini sendiri ? kalau lo kesini bersama team power ranger, ajak mereka ke atas, biar gue traktir bir.”

“Aku kesini sendiri.”

“Oia ? luar biasa memang mental siswa yang konon terkuat di SMA NEGERI XXX. Gak perlu di ragukan lagi keberaniannya. Elo gak khawatir gue habisin lo di sini ? mau sekuat apapun elo, kalau di hajar oleh orang sebanyak ini, ya minimal sebulan elo nginep di rumah sakit.”

Aku menggeleng. “Kenapa aku mesti khawatir ? aku kesini memenuhi undanganmu, untuk berbicara. Bukan untuk berkelahi. Lagipula, aku yakin kamu tidak memerintahkan teman-temanmu untuk menjajalku.”

“Darimana keyakinan lo tersebut berasal ?”

“Karena kamu masih membutuhkanku…”

Vino terdiam dan kemudian tertawa keras sekali hingga ia menggebrak-gebrak meja. Kubiarkan saja ia terus tertawa. “Don’t rate yourself too highly..” katanya setelah ia sudah kembali tenang.

“Cuma aku satu-satunya alasan teman-temanku masih menghormati hasil studi banding. Kamu menghabisiku di sini, sama saja kamu membuang studi banding ke tempat sampah dan memulai perang terbuka dengan kami. Di saat kita sibuk berperang, WARLORD datang dan aku yakin mereka dengan mudah menghabisi kita sekaligus. Lalu kita berdua jadi babu Elang. Aku yakin kamu tidak mau skenario terburuk tersebut terjadi. Tujuan Studi Banding di buat untuk mengantisipasi situasi yang kita hadapi di sekarang ini. Pilihannya cuma bekerjasama atau di taklukkan. Dan aku sangat menghormati hasil studi banding kemarin, terlepas ada banyak intrik, you’re the commander.

Hari Sabtu kemari aku berbicara tidak terlalu lama dengan Bang Joseph, namun obrolan singkat tersebut membuatku sedikit banyak memahami kenapa dia merasa perlu untuk menggagas Studi Banding. Sebuah cara pembuktian siapa yang terkuat di antara SMA NEGERI XXX dan SMA SWASTA XXX tanpa perlu di buktikan dengan tawuran berskala besar yang tidak terkendali dan berpontensi bisa memakan korban jiwa.

“Karena tidak selamanya dua itu lebik baik dari satu. Dua leader yang punya kedudukan yang sama dan saling memberikan perintah hanya akan menimbulkan kebingungan. Salah satunya harus menerima dan turun satu langkah dari tangga hierarki sehingga hanya ada satu leader. Kita para siswa berandalan tidak punya bakat untuk menyelesaikan masalah dengan musyawarah untuk mencapai kata mufakat. Gak mungkin dua top dogs saling mengalah di mana salah satu mesti ‘berbesar hati’ menjadi bawahan. Harga diri, ego seorang top dogs, tidak mengenal kata ‘mengalah’. Solusinya sudah jelas, mesti di selesaikan dengan kepalan tangan,” ujar Bang Joseph kala itu menjelaskan filosofi di balik Studi Banding,

Aku langsung paham, bahwa ada niat baik di balut dengan kebijaksaan sekaligus visi yang sangat maju dari Bang Joseph. Sehingga aku memilih menghormati tradisi tersebut.

Tradisi tersebut terbukti ampuh menciptakan jalur komunikasi yang jelas, siapa atasan siapa bawah, siapa yang memberikan perintah, siapa yang menerima perintah.

Dan sayangnya, berkat mendiang Axel yang brengsek, aku di paksa berada di posisi bawah, menjadi pijakan kaki bagi Vino.

“Apa gue gak salah dengar nih ? hahahaha !” seru Vino.

“Aku yakin kamu mendengar perkataanku tadi dengan jelas.”

Ia mengangguk-angguk. Sepertinya ia memang tipikal orang yang suka di puji.

“Dan nyaris saja berkat ketololan Bigmac, ia memicu perselisihan yang tidak perlu,” kata Vino.

“Ayolah, kita berdua tidak ada yang tahu kejadian yang sebenarnya. Cuma karena masalah sepele, kamu sampai mendatangi kami dan nyaris terlibat bentrok, bukan cuma dua sekolah tetapi tiga sekolah sekaligus.”

“Koreksi omongan lo barusan. Justru gue kesana untuk menjaga situasi, kalau gak ada gue di sana, Ucok sudah pasti mengamuk mencari Bigmac..”

“Namun sepertinya tidak terlalu berhasil, malahan Ucok berusaha memukul Dejan dari blindspot, di tambah dengan kamu berbaik hati mendinginkan kepalaku dan membuat tensi malah jadi semakin panas.”

“Hehehe, anjing-anjing lo aja yang sok galak. But anyway thanks to your headmaster. Kalau istilah di ring tinju, saved by the bell.”

“Ya..ya…ya…”

Sementara Vino kembali menyalakan rokoknya, aku meneguk air mineral di suguhkan kepadaku. Vino menatapku. “Santai saja, itu zam-zam asli, bokap si Alan barusan balik dari Arab. Ayo bersulang,” kata Vino mengangkat kaleng bir.

Dan kami bersulang, Vino dengan sekaleng bir bermerk Diablo sementara aku dengan sebotol air mineral dengan merk Zam-Zam.

“Yand, pada dasarnya gue sependapat sama elo. Studi Banding di ciptakan agar hubungan antara SMA SWASTA XXX dan SMA NEGERI XXX kompak di saat ada serangan dari luar lebih tepatnya musuh bersama, STM XXX yang sudah turun – temurun. “

Sepertinya sesi basa-basi sudah selesai, saatnya ke main course.

“Gue yakin elo sudah dengar, entah lo liat sendiri atau sudah mendapat infomasi dari Yosi, bahwa tiga atau empat sekolah setingkat SMA/STM di distrik X4 sudah berhasil di taklukkan oleh Elang. Logikanya, Elang bersama WARLORD bisa saja mereka turun ke distrik X3, X2 atau malah langsung ke distrik X1 dimana sekolahan kita ada di distrik tersebut. Tidak ada jaminan Elang akan menaklukkan semua semua sekolahan di sekeliling kita dahulu baru kemudian menyerang kita. Bisa saja mereka merasa percaya diri dan tidak ingin membuang-buang waktu dan tenaga. They’re going to ate the main course ! alias langsung menyerang kita.

Coba lo bayangin, jika pahitnya kita berdua di habisi sama Elang, sudah jelas impact-nya. Tanpa Elang bersusah payah, tidak akan ada sekolah lagi dari Distrik X3, X2, X1 manapun yang akan berani menghalangi jalan Elang. Mereka semua akan langsung menggelar karpet untuk WARLORD,” terang Vino.

Di titik ini, aku mulai menyadari bahwa Vino itu cerdas, dan dia memikirkan banyak alternatif skenario yang bisa saja terjadi.

Aku dan teman-teman XYZ sebelumnya selalu berpikir, Elang akan menguasai dahulu semua sekolah di Kota XXX. Karena dengan begitu, nama Elang akan semakin besar dan di takuti, menyebut nama WARLORD saja, sudah bisa membuat para siswa berandalan manapun merasakan kengerian tersendiri karena pamornya. Lalu jika kemudian tersiar kabar bahwa WARLORD akan menyerang sekolahan kami, meski hanya sekedar gosip, hal itu sudah lebih dari cukup menggedor mental teman-teman. Jika mental sudah goyah, pukulan yang sebenarnya tidak terlalu kuat, akan terasa seperti ayunan palu goda, karena mereka sudah ketakutan dulu. Kasarannya, pikiran mereka sudah kalah duluan sebelum maju perang.

Terror tactic yang jenius dan kami rasa, itulah taktik yang di jalankan oleh WARLORD. Dan taktik tersebut bahkan seperti di konfirmasi langsung oleh Elang ketika suatu siang entah sengaja atau tidak sengaja, kami bertemu di atas bus dan ketika kami sama-sama turun dari bus, ia melemparkan ancaman, setelah semua sekolah di Kota XXX takluk, ia akan mendatangi sekolahku.

Namun di sisi lain, perkataan Vino juga ada benarnya. Bagaimana jika Elang langsung mendatangi kami tanpa perlu repot-repot menaklukkan semua sekolah yang ada di Kota XXX ? Karena jika STM XXX berhasil menggulung SMA NEGERI XXX dan SMA SWASTA XXX, sekolah lain kemungkinan auto menyerah tanpa susah payah.

Sialan, dua kemungkinan ini akan sangat menentukan dan punya skenario yang berbeda-beda.

“Sepertinya lo udah paham tanpa perlu gue jelaskan lebih detail.”

“Paham.”

Lalu Vino menyeringai lebar. “Nah kalau elo sudah tahu, saatnya gue menagih omongan lo sebagai top dogs SMA NEGERI XXX yang kalah dalam Studi Banding, mesti menuruti instruksi dari gue sebagai sang commander.

Feelingku tidak enak.

“Kirim Bigmac ke area Distrik X1, cari tahu dimana sarang WARLORD dan cari info tentang strategi mereka.

Elang akan langsung menuju ke sekolahan kita seperti penjelasan gue di awal atau mereka mengambil langkah memutar dengan terlebih dahulu menaklukkan sekolah lain di sekitar kita. Jika Bigmac bisa melakukannya sendiri dan mendapat info A1, entah gimana caranya, gue pastikan masalah antara Bigmac dengan Herman gue anggap selesai,” ujar Vino menjabarkan instruksinya.

Brengsek !! ini misi berbahaya !

“Itu sama saja menjadikan Dejan sebagai martir !” kataku.

Vino cuma mengedikkan bahu. “Yah resiko jadi bawahan, mesti siap di perintah oleh sang komandan. Gue cuma memanfaatkan posisi gue sebagai pemenang Studi Banding. Kalau elo mau salahin seseorang, lo salahin saja dua senior lo yang sengaja mengalah. Awalnya gue kesal, terhina karena merasa kalian meremehkan kami, namun saat tiba-tiba Anton datang bersama kru-nya di Ruko Lama, gue tahu STM XXX memutuskan akan bergerak setelah sekian tahun ‘tertidur’.

Di saat itulah amarah gue berubah menjadi sukacita ! hasil kemenangan di Studi Banding bisa gue pakai ! gue bisa manfaatin kalian anak SMA NEGERI XXX sebagai martir ! menjadi pihak yang menang di Studi Banding dalam situasi damai, tenang itu gak ada gunanya hahaha ! makanya gue senang menjadi pemenang di saat yang tepat hahaha! selain itu gue punya satu X-factor yang membuat gue girang,” kata Vino berapi-api sambil mengepulkan asap rokoknya ke arah muka gue.

“Apa X-factor yang kamu maksud ?”

“Pertanyaan lo salah. Harusnya jangan pakai kata ‘apa’ tetapi ‘siapa’. jadi kalimat pertanyaan elo berubah menjadi ‘siapa X-factor yang kamu maksud ?’. Nah kalau begitu, baru gue bisa jawab.

Elo Yand ! Elo adalah X-factor yang gue maksud ! Lebih tepatnya sikap naif lo yang menjadi X-factor yang bisa gue manfaakan ! Elo adalah orang yang tepat menjadi tog dogs SMA NEGERI XXX karena elo adalah top dogs paling lurus, paling jujur dan paling setia kawan mungkin dalam sejarah sekolah lo hahah ! dan terbukti dari omongan lo di awal-awal dimana lo bilang, kalau gak salah lo bilang gini, ‘aku sangat menghormati hasil studi banding kemarin, terlepas ada banyak intrik, you’re the commander.’ Hahaha ! benar kan lo bilang gitu ? takutnya gue yang salah dengar.”

Aku mengangguk. “Iya, benar. Aku mengatakan hal tersebut.”

“Yand..Yand..coba seandainya bule gila itu masih hidup, gue pasti gak akan bisa menekan dia seperti gue menekan elo seperti sekarang ini. Axel itu sangat liar, gak akan ada yang bisa mengaturnya. Beruntung, dia umurnya pendek dan elo jadi penggantinya, seseorang yang berhati mulia, patuh terhadap peraturan dan juga tradisi, serta kehormatan, hahahahaha !”

Brengsek.. Vino culas dan cerdik ! ia benar-benar pandai memanfaatkan situasi dan kini membuatku dalam posist terdesak.

“Nah, oleh karena itu, sebagai bawahan yang baik, lo mesti mentaati perintah dari gue, komandan lo. Terserah lo mau bilang apa ke Bigmac, gue gak peduli kalau dia tidak mau menuruti perintah lo. Kalau dia menolak perintah lo, ya ngapain lo jadi top dogs kalau gak bisa buat para junior nurut sama elo…”

Aku terdiam mendengarnya. Bukan itu yang ku khawatirkan, justru sebaliknya. Dejan pasti tanpa berpikir panjang akan langsung mengatakan “Ya” begitu kuberitahu. Dejan gak boleh sendirian ke sarang musuh !

“Vin, biarkan aku menemani Dejan mencari tahu homebase WARLORD. Terlalu bahaya kalau ia sendirian ke atas,”

Vino terkekeh. “Elo boleh ikut Bigmac, tetapi ada syaratnya.” dia lalu memajukan wajahnya dan dengan pelan ia berkata dengan dingin, “Bantai Ucok sampai tulangnya ada yang patah. Buat dia tidak bisa ikut lagi tim basket. Di sini, sekarang juga hehehe. Ya kalau lo gak mau lawan Ucok gak masalah sih, cuma ya itu. Dejan harus sendirian. Cuma kalau sampai gue tahu, dan gue pasti tahu, kalian mengikuti Dejan. Berarti elo orang paling munafik yang gue tahu yang, bersikap sok cuci sok pahlawan tapi pada dasarnya lo sampah, sampah dari kampung yang hanya bisa mengotori kota ini.”

Aku langsung mengusap muka saat mendengarnya. Dia menyuruhku membantai Ucok sampai dia cedera parah sampai patah tulang sehingga dia out dari team basket sekolah, Bajingan !! Vino sudah menempatkanku dalam situasi yang sangat di lematis. Bukan masalah matahin tulang Ucok, tetapi impact-nya yang akan menempatkan aku dalam situasi pelik.

Bagaimana tidak, kemarin saat aku berbicara empat mata dengan Puput, dia sempat menyinggung Ucok. Puput bilang dia paling mengkhawatirkan Ucok yang paling mudah kena kompor. Emosinya labil membuat ia mudah sekali terlibat dalam keributan. Pelatih tim basket SMA SWASTA XXX tidak akan segan mendepak Ucok dari tim jika ia terlibat perkelahian. Menurut Puput, pelatih tim basketnya sangat disiplin, ia tidak peduli jika mengeluarkan Ucok dari tim, akan melemahkan kekuatan team basket putra secara signifikan. Padahal dalam hitungan bulan, team basket putra SMA SWASTA akan berkompetisi di putaran 16 besar kompetisi basket tingkat SMA se-nasioanal. Sebuah kompetisi yang sangat di ingin di menangkan oleh Puput di tahun terakhirnya. Sebuah ambisi yang sampai-sampai Puput memilih angkat tangan, tidak peduli dengan urusan para siswa berandalan di seputaran sekolah.

Tetapi rasanya aku juga tidak mungkin membiarkan Dejan pergi sendirian, jika hal yang buruk menimpanya, aku akan menjadi orang di salahkan dan bisa memperkeruh suasana internal XYZ yang sedang terbagi menjadi dua kubu. Efeknya bisa berantai dan bisa memicu serangan ke SMA SWASTA XXX. Suasana akan menjadi semakin runyam dan tidak bisa terkendali lagi.

Fuck. I had no choice.

“Baik. Kuterima syarat tersebut,” kujawab tantangannya dengan berat hati.

Vino tertawa lebar lalu berteriak ke arah anak buahnya. “Anak-anak ! siapkan arena seperti biasa !”

Aku menoleh ke belakang dan melihat meja dan bangku di pindah ke tepi sehingga menciptakan ruang yang agak di lapang di tengah ruangan. Lalu para kru RAGE berdiri di sisi tepi kiri kanannya. Ada dua orang yang berjaga di arah tangga, sepertinya mereka tidak akan membolehkan siapapun naik ke lantai dua untuk sementara waktu.

“Lo tenang saja, ini tempat masih milik saudara sepupu gue. Aman dari gangguan dan segala kerusakan gue yang akan ganti,” kata Vino sambil berdiri dan berlalu pergi ke arah arena sembari menenteng sekaleng bir.

Aku pun melepas jaket dan jaket kutaruh di meja lalu menyusul Vino ke ruang tengah.

“Nah mantapppp !! bantai si culun bosss !”

“Hajarrrr !!”

“Habisi !!!”

“Jangan kasih ampuun boosss !!!”

Terdengar suara riuh anak-anak RAGE.

“Hahaha santai. Bukan gue yang akan melawan Yandi, belum..belum saatnya. Lawan Yandi adalah Ucok. Cok, selesaikan urusan lo dengan Yandi. Anggap saja Yandi perwakilan dari Bigmac. Apapun hasilnya, gue anggap masalah adik lo Herman dengan Bigmac selesai,” ujar Vino santai.

Mereka yang tadinya berseru untuk Vino sedikit kaget, termasuk para kru inti RAGE. Kecuali Ucok tentu saja. Ia langsung berseru senang dan melepas kaos yang di kenakan hingga bertelanjang dada.

Ia menatap gue dengan tatapan mata membara namun Jalu tiba-tiba memegang pundak Ucok dari belakang saat Ucok hendak maju.

“Cok, lu bulan depan ada match ! jangan ngaco lu ! biar Herman yang maju ! biar gak jadi anak manja adik lo.”

“Santai, selama gak ketahuan kalau gue fight, aman. Heh kalian semua, jangan ada yang ngrekam dengan hape ! kalau nanti video gw gebukin culun ini kesebar terus gue di keluarkan dari tim basket, gue bakal habisin !” kata Ucok.

“Memang berantem gak ada bekasnya ! udah gak usah ambil resiko, kondisi lu sedang fit !” Jalu masih mencoba mencegah Ucok.

Gue berharap Ucok mendengarkan nasehat Jalu tetapi ketika Ucok mengibaskan tangan Jalu yang memegang pundaknya, sepertinya perkelahianku dengan Ucok tak terhindarkan dan kemungkinan besar aku akan membuatnya di keluarkan dari team basket.

“Halah, cuma bonyok, bisa gue akalin, dah tenang saja ! Yandi hasil kali ini berbeda ! gue bantaii looo !” teriak Ucok dan maju mendekatiku.

Ketika berjarak dua meter, ia sudah bersiap mengepalkan kedua tinjunya. Fisik anak basket memang ngeri, tinggi besar dan cukup berotot, atletis pula. Stamina mereka juga sangat baik. Terakhir kali aku berkelahi dengan Ucok, luka lebam di wajah baru hilang beberapa hari. Ah sialan, aku gak mungkin bisa menyelesaikan duelku dengan Ucok tanpa meninggalkan bekas luka di wajah. Yang bisa kulakukan adalah meminimalisir luka di bagian wajah.

Aku mengelak ke kiri saat Ucok sudah melancarkan pukulan pembuka dengan jab kiri, namun melihat senyum Ucok terkembang membuatku tersadar, aku kena gerakan tipuan darinya.

BAM !!

Wajahku terdongak ke atas terkena straight kanan ke hidung. Saat wajahku terdongak menatap ke arah lampu, aku melihat cipratan darah melayang ke udara. Tangan kananku di pegang Ucok dan selanjutnya, pandangan mataku berkunang-kunang saat siku kanan Ucok menghantam mulutku.

BAM !!

Alarm tubuhku menyala, pertanda akan datang kembali serangan keras.

BAM !BAM !BAM !

“Ugh !” aku mengerang saat rentetan pukulan ke arah dada dan perut mendarat tanpa ada halangan. Aku tidak boleh lamban bereaksi ! Ku eratkan kepalan di tangan kiri dan kuayunkan dari arah bawah dan jarak dekat ke rahang Ucok.

Bugh !

Sialan !Uppercutku tertahan ! karena Ucok membentuk blok kuat dengan kedua sikunya. Tapi aku belum selesai ! dalam posisi badan kami saling berhimpit, kali ini kuhantam ulu hatinya dengan tinju kanan !

BAM !

Ucok mengernyit kesakitan. Meskipun terasa otot perutnya cukup tebal karena terlatih, namun aku percaya diri, siapapun akan mendelik kesakitan sampai pucat saat kuhantam ulu hatinya dengan tinjuku.

WUSH !!WUSH !!

Dua pukulan yang kuarahkan ke kepala Ucok hanya menyambar ruang kosong di udara karena Ucok dengan gesit mendorongku ke belakang dan di saat yang sama ia mundur satu langkah !

Ucok mengangkat kedua tangannya ke atas untuk mengurani rasa nyeri dan sesak akibat pukulan ke ulut hati. Sementara aku juga tidak gegabah maju menyerang karena aku merasakan ada cairan di atas bibirku. Aku seka dengan lengan nampak noda darah segar mengucur dari hidung.

Brengsek ! rupanya straight kanan di awal figght tadi membuat hidungku langsung mimisan. Semenjak duelku dengan Blood Creep di site, aku merasa kondisi hidungku menjadi lebih rentan. Aku mendapat cedera di hidung yang cukup parah saat melawan Kabal. Aku malah mengira tulang hidungku patah karena kerasnya hantaman yang kuterima pada saat itu. Namun Dokter di klinik yang mengecek kondisi hidungku mengatakan, tulang hidungku tidak patah. Hanya nyaris. Sehingga tidak perlu sampai operasi. Aku di minta untuk “mengistirahatkan”hidung dari segala bentuk hantaman yang bisa membuat cedera di hidung lamban untuk sembuh.

Dan terbukti barusan, satu hantaman keras ke bagian hidung, langsung membuat darah mengucur. Beruntung aku mengenakan baju hitam, bisa repot kalau bajukupu putih atau berwarna terang, pasti terlihat jelas bekas darahnya.

Ucok sepertinya sudah pulih dan kembali memasang pose siaga, sementara aku juga sama. Namun tanpa kusadari, posisi tangan kiriku yang lebih tinggi yang kuposisikan untuk melindungi hidung terbaca oleh Vino.

“Cok, incar hidungnya ! pukulan lo di hidung Yandi efeknya lumayan parah, ngocor terus darahnya haha,” seru Vino sambil tertawa terkekeh.

“Permak muka si culun Bang !”

“Jangan kasih kendor Bang !”

“Nitip patahin hidungnya Bang !”

Kru RAGE memberik semangat kepada Ucok. Ucok menoleh ke arah Vino sebentar lalu menatap ke arahku sambil tertawa. “Hohoho, siap-siap operasi hidung lo bangsat !”

Berikutnya Ucok membabi-buta menyerangku dengan agresif, mengincar TKO ke arah hidungku tentu saja Ia hanya sedikit memberiku ruang untuk melancarkan balasan karena seranganya begitu rapat. Pukulan kombinasi Ucok sangat merepotkan, satu atau dua ada yang masuk entah mengenai badan dan muka. Lengan yang kupakai untuk bloking serangannya juga mulai nyeri memerah karena kerasnya pukulan. Aku juga tidak tinggal diam, kukirim counter pukulan di selingi tendangan tapi lengan Ucok yang berotot memang sangat kokoh. Setiap pukulan atau tendangan yang di blok dengan lengannya, terasa tak memberikan efek berarti. Stamina dia juga masih tetap oke. Itu berarti tandanya aku tidak boleh bersikap defensif. Karena terlalu memikirkan cedera yang minimal di bagian muka, membuat aku tidak bisa frotal berkelahi. Persetan lah ! saatnya aku gedor balik !

BAM !

Tendanganku sembari meloncat mengenai dada Ucok membuat dia nyaris terjengkang ke belakang namun teman-temannya menahan dan memegang badan Ucok sehingga dia masih tetap berdiri.

“Bangsaat !” Ucok memekik marah.

Ia berlari menerjanga dengan mengayunkan lengan bagian dalam sebagai serangan. Aku salah menyikapi serangan dengan menangkis. Karena badanku ikut terseret ke belakang karena besarnya daya dobrak Ucok. Di belakangku ada kerumunan anak RAGE. Aku merasa mereka pasti akan ikut campur dengan memegangi badanku dari belakang membuat Ucok bisa dengan leluasa menghajarku.

Oleh karena itu segera kuhentikan dorongan Ucok dengan menendang paha kanannya, Ucok mengernyit kesakitan. Namun saat hendak kuulangi serangan yang sama, Ucok mengubah posisi kakinya dengan membuka kaki kanannya melebar, membuat aku justru menendang lututnya yang keras. Meski aku pakai sepatu namun tetap saja punggung kakiku terasa sakit saat beradu dengan lutut.

PLAK!

Pukulan telak ke arah pipi membuat pipiku serasa terbakar dan di susul tandukan ke arah kening.

BAM !

Aku terhuyung ke belakang.

DUAG !

Sebuah tendangan lutut ke arah pinggangku yang berasal dari arah belakang, membuat aku reflek maju ke arah depan alias ke arah Ucok. Ucok tersenyum, tangan kanannya sudah terkepal erat sekali ! gawatt.

“Makan ini tinju gue !”

Sepersekian sedikit aku coba bereaksi mengelak dan berhasil ! pukulan Ucok melesat ke samping kepala ! di saat yang sama, memanfaatkan dorongan ke depan, kuarahkan lutut kanan ke perut Ucok.

BAM !

Tanpa buang waktu, kuhantam kedua telinga Ucok dari samping kiri kanan secara bersamaan. Ucok mengerang sakit, karena selama beberapa saat kupingnya pasti berdenging akibat pukulanku tersebut yang mengacaukan keseimbangan tubuhnya. Ucok limbung namun masih tidak mau tumbang, ia memukul dengan membabi-buta, aku merunduk mengarahkan sekali lagi hantaman ke perut sampai air liur Ucok merembes keluar dari mulut. Aku lalu beringsut membelakangi Ucok, kupegang pergelangan tangan kirinya, kupegang belakang kepalanya dengan telapak tangan kanan. Kemudian kusapu betis kakinya dengan sebuah tendangan sapuan membuat Ucok terjatuh kehilangan pijakan.

Karena belakang kepalanya kupegang, hal itu kumanfaatkan dengan mendorong wajahnya meluncur ke arah lantai !

BAM !!!

Muka Ucok meluncur dan beradu dengan lantai keramik yang keras. Adu keras muka dengan lantai keramik sudah jelas siapa pemenangnya. Aku lalu melingkarkan lengan kananku ke leher Ucok yang dalam posisi telentang dan kutindih dari atas ! aku setengah mencekiknya. Dalam kondisi biasa, sudah cukup kubuat dia pingsan namun saat aku melihat ke arah Vino, ia mengangkat kaleng bir di tangan dan tersenyum, sebuah pertanda bahwa aku belum selesai, pertarungan ini tidak akan selesai hanya dengan sekedar membuat Ucok pingsan.

“Maaf..” aku berbisik ke telinga Ucok.

Aku langsung melepas dekapan di leher Ucok, kuraih tangan kiri Ucok dan kemudian aku berdiri. Setelah menarik nafas dengan berat, kupuntir pergelangan tangan kiri Ucok lalu. Kutendang di bagian persendiannya hingga aku yakin semua orang yang ada di sini mendengar suara tulang yang berderak patah.

“ARGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!” Ucok menjerit kesakitan ! sebelum Ucok berteriak makin keras, kutendang mukanya dan ia pun pingsan dengan mulut terbuka.

“JAHANAM !! MAMPUSIN SI CULUUUN !”

Aku mendengar para kru RAGE berteriak marah ! mereka langsung menyerang ke arahku ! udah jelas tindakanku barusan memantik emosi semua kru RAGE ! Aku langsung mundur sembari memukul mereka yang menghambur ke arahku, mereka yang kena pukulanku langsung bertumbangan pingsan di lantai. Karena memang langsung kupukul kuat-kuat. Tapi aku di keroyok sehingga tetap saja ada banyak pukulan yang mampir ke wajah dan badanku.

Di saat aku semakin terpojok, dari arah lantai bawah ada kelompok lain yang bergerak maju. Habis sudah kalau mereka ikut menyerangku ! namun aku salah ! kelompok tersebut justru menarik dan menyeret meraka yang sudah menyerangku.

“APA-APAAN INI ! JANGAN ADA LAGI YANG MENYERANG YANDI ! YANDI tMENGALAHKAN UCOK DENGAN FAIR ! YANG GAK BISA KONTROL, GUE SENDIRI YANG HABISI KALIAN !” Vino berteriak marah.

Teriakan Vino membuat suasana yang tadinya kacau balau kini mulai terkendali.

“Franz !! Cepat bopong Ucok ! lengannya patah !” Kali ini kudengar teriakan panik dari Jalu. Kemudian Jalu menatapku dengan tatapan yang kukenali.

“Kenapa lo sampai patahin lengan Ucok segala, brengsek !!” dan amarah Jalu sudah meledak-ledak. Ia bangkit dan hendak menerjangku namun, sebelum Jalu menerjangku, seseorang maju dan memukul tengkuk Jalu hingga ia kini jatuh berdebum pingsan.

“Thanks Coki ! memang berisik sekali si Jalu ini!”

Orang yang di awal beradu pandang denganku, rupanya bernama Coki dan ia bertindak sigap dan memukul Jalu hingga dia pingsan sebelun kembali menyulut keributan. Coki hanya mengangguk dan kemudian kembali duduk, menikmati rokoknya tanpa melepaskan tatapannya dariku. Aku hafal arti tatapannya.

Tatapan yang penuh rasa penasaran, seolah ingin menjajal langsung kemampuanku.

Coki -KLS 2 SMA SWASTA XXX

Maaf lain kali saja, batinku.

“Heh kalian berempat, bawa Ucok pergi ke klinik. Yang pingsan di sini termasuk Jalu, seret saja ke room.” Vino langsung memberikan perintah dan di laksakan langsung oleh anak buahnya.

Setelah Ucok di bawa turun, Jalu beserta beberapa orang yang pingsan karena kena pukulanku di bawa ke satu ruangan yang ada di lantai dua, kini suasana kembali terkendali.

“Dengar kalian semua, kalian semua gue larang keras membalas dendam kepada Yandi atas apa yang terjadi di sini. Yandi menang dengan fair kalian lihat sendiri. Paham, kalian ?”

“Paham boss !” jawab para kru RAGE serentak.

“Sekarang kalian semua Kecuali, Alan, Bayu dan Coki, turun ke bawah.”

Mereka semua lalu turun sehingga di lantai dua ini hanya tersisa kami berlima.

“Good Job. Yand, haha !” Vino memberikan tepuk tangan kepadaku.

“Aku sudah melakukan syarat yang kamu berikan,” kataku sembari mengusap luka di hidung. Dengan langkah tertatih aku memakai kembali jaketku dan meminum habis air zam-zam di botol.”

“Silahkan nanti elo temani Bigmac. Kapan waktunya, akan gue informasikan secepatnya. Yang jelas, lo sebagai bawahan gue, cukup stand by saja tunggu kabar dari gue, hahahahaha !

Sepertinya kita sudahi dulu pertemuan yang menyenangkan karena elo udah memberikan pertunjukkan yang mayan menghibur. Alan, temani Yandi ke bawah, pastikan tidak ada yang macam-macam dengan Yandi sampai ia pergi.”

Alan mengangguk.

Aku lalu berjalan dengan sedikit tertatih, namun kemudian aku berhenti sejenak tepat di depan Vino karena aku teringat sesuatu dan ini pasti memantik rasa penasaran dan minimal sedikit menghapus senyum licik yang tergambar di wajahnya.

“Vin, dapat salam dari Bang Jos..” kataku.

Vino dengan sedikut tersenyum lalu bertanya, “Bang Jos ?”

“Masak sama kakak kelas, legenda hidup SMA SWASTA XXX, kamu gak tahu..”

Vino auto terdiam.

“Bang Jos. Joseph Strada.Orang yang sudah berinisiatif membuat Studi Banding. Kalau kamu mau silahturhami sama Bang Jos, kamu bisa datang ke kos-kosan yang memiliki mural naga berwarna hijau di bagian depan kosan. Lokasinya persis di belakang Universitas Negeri XXX. Kalau gak bisa nemu itu kos-kosan, kalau kamu mau, bisa kukasih nomor ponsel Bang Jos.”

Raut muka Vino langsung berubah, wajahnya memerah. Kaleng bir yang ia genggam langsung ia remas. Melihat wajah Vino seperti ini, lumayan menghibur. Padahal aku gak punya nomor ponsel Bang Jos. Yang kupunya nomor ponsel Bang Bro, salah satu teman dekat Bang Jos.

Kutinggalkan Vino cs, sempat terdengar umpatan dari Vino di selingi suara kaleng yang di banting ke lantai keras-keras. Aku melenggang turun ke bawah di ikuti oleh Alan. Kubalas tatapan semua orang yang menatap ke arahku ketika aku sudah berada di bawah. Kulihat Aloy tersenyum dan mengangkat gelasnya ke arahku.

Aku lalu segera pergi dari BEERHAUSE dan memacu kendaraanku menembus malam. Aku berhenti sebentar di SPBU untuk cuci muka sekaligus membersihkan luka lebam di wajah terutama luka mimis di hidung yang sudah berhenti mengeluarkan darah. Entah sejak kapan.

Setelah selesai bersih-bersih, aku berpikir sejenak di atas sepeda motor. Sekarang sudah jam setengah sepuluh. Namun aku belum bisa pulang, masih ada urusan yang perlu kutuntaskan.

Aku harus segera menemui Puput, dia harus tahu alasan sebenarnya kenapa aku sampai mematahkan tulang di lengan kiri Ucok. Semakin cepat Puput tahu, semakin baik sebelum timbul kesalahpahaman yang membuat situasi jadi runyam. Kukeluarkan ponsel dan menelepon Puput, baru satu kali dering, panggilanku langsung di angkat.

“Halo Put, kamu ada dimana ?” aku menelepon Puput terlebih dahulu, karena aku tidak tahu di mana rumahnya.

“PANJANG UMUR LO BANGSSAAAAAT !!! DI MANA LO SEKARANG ? !!!ANJING LU YAND !! LU APAIN UCOK SAMPAI DI KOLAPS DI KLINIK, APAKAH PERLU SAMPAI LO PATAHIN TULANGNYA, DASAR KEPARAT LUU !! ” emosi Puput langsung meledak-ledak dan memakiku dari seberang sana. Sepertinya dia sudah tahu.

“Makanya aku meneleponmu sekarang Put, berikan alamat rumahmu, aku akan ke rumahmu untuk menjelaskan semuanya tentang malam ini.”

“GAK USAH LO KE RUMAH GUE ! LO ADA DI MANA SEKARANG? MASIH DEKAT SAMA BEERHAUSE GAK ! BIAR GUE YANG SAMPERIN ELO.”

“Aku ada di SPBU jalan Pahlawan, gak jauh dari BEERHAUSE.”

“200 meter dari SPBU itu ke arah timur ada taman Pahlawan. Depan Taman Pahlawan ada Alfamart. Lo tunggu di situ. Gue kesana sekarang, gak sampai lima belas menit.”

KLIK

“Hadeuh…” aku menghela nafas dan mengarahkan motor menuju ke lokasi yang di maksud Puput.

Setelah membeli sekaleng Nescafe Latte dingin, aku duduk di kursi yang tersedia di teras Alfamart. Hanya aku sendirian yang duduk di sini. Sepi, tukang parkit pun gak ada. Motor cuma ada tiga di halaman. Salah satunya motor Mbak Asih. Dua motor lagi paling milik karyawan Alfarmart. Baguslah kalau ribut sama Puput di sini, gak ganggu orang lain.

Sekitar sepuluh menit kemudian samar-samar dari jalan raya aku mendengar suara knalpot motor yang sangat keras. Motor tersebut melaju dengan cepat karena semakin lama terdengar makin keras, aku yakin itu Puput dengan Ninja tunganggannya.

Dan benar saja.

Puput langsung memarkirkan motor, melepas helm dan hendak menghardikku. Aku cuma bisa tersenyum sembari mengangkat kaleng minumanku. Entaj kenapa Puput tidak jadi menghardikku, ia lalu masuk ke dalam Alfamart. Saat ia keluar, ia membawa satu botol Coca-Cola dingin. Ia mengambil kursi kosong di ujung teras, ia letakkan kursi tersebut di dekatku lalu ia duduk dan meminum Coca-Cola.

Aku sengaja diam, menunggu Puput memulai pembicaraan.

“Sori gue tadi emosi berat di telepon, gue kaget tiba-tiba dapat kiriman Video di WA Ucok sedang di bawa dengan kursi roda di sebuah klinik dengan kondisi babak belur parah dan lengan yang… Caption video tersebut singkat saja. ‘Ucok TKO di bantai Yandi sampai patah tulang!’ belum sempat gue lihat video secara utuh, terus elo nelpon. Ya meledaklah. Berkelahi sampai mematahkan tulang lawan sepertinya bukan gayamu. Coba ceritakan ke gue dan tolong jangan lo tutup-tutupi,” ujar Puput.

“Tadi aku datang ke BEERHAUSE untuk menemui Vino. Setelah basa-basi, Vino memberi perintah kepadaku, untuk mengirim juniorku, Dejan untuk mencari lokasi homebase WARLORD lalu mencari info tentang rencana WARLORD.”

“Rencana apa?”

“WARLORD langsung menyerang sekolahan kita atau mereka terlebih dahulu menaklukkan semua sekolah di Kota ini baru menyerang kita.”

“Terus ?”

“Tentu saja aku keberatan, mengirim Dejan berkeliaran di Distrik X1 sama saja mengirim dia ke lokasi berbahaya. Apalagi sosoknya cukup mencolok.”

“Kenapa Vino secara spesifik meminta elo, agar Dejan yang turun ke X1?”

“Kamu tahu anak kelas 1 di sekolahanku yang punya sebutan Bigmac ?”

“Tahu, itu junior lo yang kabarnya gebukkin Herman, adik Ucok. Eh wait, Bigmac itu nama aslinya Dejan ?”

Aku mengangguk. “Yep. Makanya dia memintaku agar Dejan yang turun sebagai bentuk permintaan maaf karena sudah mengeroyok Herman. Ya itu versi Vino. Aku berani bilang, itu versi yang ngawur.”

“Terus apa korelasi Bigmac, Herman dengan elo hajar Ucok sampai lo patahin lengannya. Bulan depan itu kompetisi 16 besar sudah di mulai ! Kan elo udah gue kasih info tentang Ucok kalau dia masih bagian dari tim basket sekolahan gue,” geram Puput yang kembali menampakkan ekspresi marah.

“Begini Put, kujelaskan. Aku meminta Vino agar aku bisa ikut dengan Dejan. Karena kalau Dekan kenapa-kenapa, aku yang bertanggung-jawab bukan Vino. Namun Vino awalnya menolak hingga kemudian ia memberikan satu syarat khusus. Aku bisa menemani Dejan melakukan pengintaian di Distrik X1 dengan syarat aku duel Ucok. Atau lebih jelasnya, aku menghabisi Ucok sampai cedera berat, patah tulang dan tidak bisa ikut bertanding di team basket. Entah karena cederanya yang butuh lama untuk proses penyembuhan atau di keluarkan dari team basket.”

“Apa !!! Vino nyuruh elo seperti itu ?” Puput kaget sampai berdiri dari kursi dan berjalan mondar-mandir di parkiran. Botol minumannya sudah ia banting ke bawah, terlihat ia benar-benar emosi.

Aku mengangguk. “Masak iya aku mengarang cerita tentang hal sensitif seperti ini.”

“Dan begonya, elo nurut dengan syarat tersebut ?” sindir Puput tajam.

“Aku tidak ada pilihan lain Put. Aku tidak memintamu untuk mengerti posisiku. Tapi coba kamu yang berada di posisiku, apa yang akan kamu lakukan ?”

Puput mengeram marah, “Vino anjingggg !! Saat Vino memintamu untuk membantai Ucok, tidak ada orang lain yang tahu ?”

“Menurutku tidak ada. Karena aku berbicara empat mata dengan Vino di meja yang terpisah cukup jauh dengan kru RAGE yang lain.”

“Keparat ! tentu saja Vino memintamu dengan diam-diam. Yand ! tadi di sana ada Jalu ?!”

“Ada. Jalu malah yang mencoba mencegah Ucok agar dia tidak perlu duel denganku. Jalu mengingatkan bahwa bulan depan ada kompetisi. Namun Ucok sesumbar dan bermulut besar, ia sama sekali tidak tahu, bahwa kali ini aku tidak hanya membuatnya pingsan….”

“Ketika pada akhirnya lo bisa bantai Ucok, apa reaksi Jalu ?”

“Ya jelas ia marah dan hendak menyerangku, sama seperti kru RAGE lain yang sempat mengeroyokku setelah kupatahkan lengan Ucok. Namun kemudian Coki memukul Jalu hingga ia pingsan. Vino kemudian menyuruh anak di sana untuk segera membawa Ucok ke klinik dan Jalu yang pingsan di bawa ke satu ruangan yang ada di lantai dua BEERHAUSE.”

Puput lalu terpekur dan duduk dengan lesu di kursi. “Jalu..dia memperingatkan Ucok agar Ucok tidak mengulangi kesalahannya..”

“Jadi..apa yang akan kamu lakukan Put ? terutama kepada Vino.”

Puput menggeleng. “Gak ada. Gue gak akan lakuin apa-apa… sampai kompetisi basket selesai…”

“Maksudnya ?”

“Tunggu saja. Apapun hasil yang kami raih di kompetisi, aku akan menuntut balas kepada Vino, tidak dengan cara kasar. Melainkan denga cara.…menusuknya dari belakang..” katanya sambil menatapku dengan tatapan tajam, tatapan khas siswa berandalan.

Entah aku mesti bereaksi seperti apa mendengar perkataan Puput. Yang jelas, kelicikan Vino sudah memantik jiwa berandalan Puput. Sepertinya suasana SMA SWASTA XXX akan sangat panas.

Semoga tidak ada dari kami yang terbakar, terpanggang hidup-hidup oleh kobaran api penuh bara dendam…

 

= BERSAMBUNG =

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!