LPH #174

Episode 174
Lihat Aku Menghancurkan Diri

(POV Sadli)

 

“Sol, ayok ikut gue ngrokok bentar…” kata gue saat menghampiri Soleh yang sedang berbicara dengan anak-anak lainnya. Sekilas gue dengar mereka membicarakan tentang persiapan malam ini.

“Rokok gue habis Bang.”

“Gue ada.”

“Oke siap.”

“Bang, cuma Soleh doang nih yang di bagi rokok,” tukas Putra.

“Rokok gue tinggal dua batang.” Gue kemudian merogoh beberapa lembar uang seratus ribuan yang ada di kantung saku lalu gue berikan kepada Putra. “Lo beli satu slop sekalian. Sisanya buat beli Aqua.”

“Wih makasih Bang. Tong, ayo ikut ke Indomaret. Sisanya biar di bereskan anak-anak lain.”

“Wokee siap.”

Putra dan Otong kemudian pergi. Sementara anak-anak lain lanjut mengumpulkan beberapa peralatan yang akan kami gunakan malam ini.

“Sol, yakin lu mau ikut ? bukannya lu barusan nikah..” gue tanya ke Soleh, ketika gue sudah berbicara empat mata dengan dia di pojok sembari merokok.

Soleh tidak langsung menjawab, dia melempar pandangan ke samping dan menghisap rokok cukup dalam. “Kalau gue gak yakin, gue gak akan datang kesini Bang,” ujarnya setelah beberapa saat, seperti sedang memikirkan kata-kata apa yang akan dia utarakan.

“Bini lo tahu lo datang kesini ?”

Soleh menggeleng. “Dia gak perlu tahu Bang.”

“Kalau setelah malam ini lu gak bisa pulang ke rumah, tapi lu pulang ke pangkuan malaikat bagaimana ?”

“Aish, jangan begitulah Bang. Jangan mojokin gue.”

“Jangan begitu gimana ? gue gak mojokkin elu. Gue cuma mau tanya apa motivasi lu datang kesini. Karena malam ini kita kumpul bukan untuk bersenang-senang. Malam ini kita mau perang, kita mau ngebunuh orang, banyak orang. Izrail, sang malaikat pencabut akan bekerja lembur malam ini membuka gerbang pintu neraka sampai pagi. Karena akan ada banyak orang yang mampus malam ini. Siapapun bisa masuk ke dalam death note milik Izrail. Gue, Taka, anak-anak dan elu juga.”

“Gue gak ada niat dan minat untuk mati malam ini Bang !” sergah Soleh sengit.

“Semua orang yang berkumpul malam ini juga tidak ada niat dan berminat untuk putus nyawanya. Tetapi perang malam ini, akan mendekati level ekstrem. Segala perang atau tawuran yang pernah kita alami bersama sedari kita SMA, tidak akan ada apa-apanya. Setiap orang, baik dari kelompok kita maupun kelompok yang akan kita serang, punya prosentase hidup dan mati di angka 50 banding 50.

Karena kemungkinan untuk tetap hidup atau matinya sama besarnya, mau gak mau lu juga mesti menyiapkan plan B. Kalau Plan B versi gue, ya paling bokap nyokap udah gak mau ngurus mayat gue di Rumah Sakit, di biarkan membusuk di ruang jenazah sampai akhirnya di makamkan secara random karena keluarga gue sudah lelah dengan segala kebrandalan gue. Intinya gak banyak yang akan kerepotan kalau gue tamat malam ini.

Tapi kondisi elu lain. Lu baru nikah 2 bulan yang lalu. Lu mampus malam ini, bini lo jadi janda. Hesti gak mungkin ada rencana jadi jandi setelah baru nikah 2 bulan.”

“Anjing lu Bang !” Soleh memaki gue sembari menendang dinding di samping. “Lu pikir gue gak ada pemikiran kayak gitu ? kalau di logika, tentu lebih baik gue ngewe sama bini di rumah, daripada gue berada di sini. Jujur saja, gue juga inginnya begitu. Tetapi perasaaan gue campur aduk, perasaan malu, sedih, duka karena Bang Sindu dan Bang Trias udah gak ada. Gue bisa kenalan sama Hesti sampai pacaran lalu nikah ya karena bantuan dari almarhum Bang Trias. Gue juga punya hutang nyawa sama elu Bang.

Jadi mana mungkin gue diem saja, bisa kelonan sama istri dengan tenang sementara di saat yang sama, gue tahu Bang Sadli, Bang Taka dan teman-teman lain sedang mengadu nyawa untuk menuntut dendam. Gue masih punya rasa malu Bang. Gue bisa jaga diri dan gue yakin gue bakalan bisa pulang ke rumah ktemu sama istri lagi setelah malam ini..”

Ya gue paham sih situasi dilematis yang tengah di hadapi oleh Soleh dan dia mengambil resiko besar untuk datang ke sini. Karena gue paham makanya gue ingin memastikan sekali lagi, gue gak ingin Soleh datang ke sini hanya karena perasaan sungkan. Rasa sungkan ini yang akan membuat dia maju ke medan laga dengan konsentrasi terpecah. Hal itu akan membahayakan diri dia sendiri. Karena tidak akan ada waktu untuk saling back-up kalau sudah pecah perang. Semua orang mesti bergantung dengan kemampuan diri sendiri.

Gue hisap rokok dalam-dalam sampai habis tersisa puntungnya. Puntung rokok gue jentikkan ke tanah lalu gue injak.

“Elo udah gak ada hutang nyawa lagi sama gue. Lo udah datang tepat waktu kemarin. Kita impas. Jadi jangan jadikan beban. Perkara Trias yang ngenalin Hesti ke elo, juga jangan lagi elo jadikan beban. Lu bisa dapetin Hesti selain faktor kalian memang berjodoh, karena lu juga gigih perjuangain dia.”

Gue ambil sebatang rokok lagi dari saku jaket, gue selipkan rokok di antara mulut Soleh lalu gue nyalakan rokok dengan zippo.

“Elo atau siapapun yang tidak datang kesini, tidak perlu merasa malu. Elo lihat sendiri, tidak semua orang datang kan ?

Keadaan sudah berbeda, kita bukan lagi anak ingusan SMA yang dikit-dikit bilang ‘fuck everyone, fuck this world’ dan setiap hari berkelahi karena perkara sepele. Sekarang kita semua sudah punya tanggung jawab. Baik pekerjaan, istri, anak dan sebagainya.

Habiskan rokok ini. Apapun keputusan elo setelah ini, gue tidak akan banyak bertanya.”

Gue tinggalkan Soleh sendirian untuk merokok dan memikirkan semua resikonya.

Soleh, dia adik kelas gue di SMA NEGERI XXX. Anaknya loyal dan baik. Setelah lulus SMA dia sempat kuliah D3 bisnis tetapi ia tidak menyelesaikan studinya dan malah membuka usaha vape store. Terbilang lumayan sukses sih. Ketika dia tahu gue menjadi salah satu leader di LPH, tanpa berpikir panjang dia memutuskan untuk ikut serta menjadi kru gue.

“Yang namanya begundal, gak kenal umur Bang. Lagipula, selalu menarik melihat perkembangan sepak terjang para jagoan di sekolah-sekolah. Ya gak guys?”

Begitu dia bilang ketika suatu hari dia tiba-tiba datang ke rumah gue bersama teman-teman seangkatannya yang berjumlah puluhan.

Gue balik ke dalam warehouse dan menghampiri Taka yang sedang sibuk dengan telepon.

“Rencana mobilisasi sudah beres. Kita kesana naik mobil box. Satu box bisa di isi 10-15 orang. Gue sekarang perlu menghitung lagi berapa total semua orang yang akan ikut, karena berhubungan dengan jumlah mobil box yang kita perlukan,” jelas Taka ketika ia sudah selesai dengan teleponnya.

“Anjir jadi ikan asin kita berdesakan di mobil box,” keluh Topan.

“Terus lu mau naik apa kesana ? angkot apa limosin ?” balas Taka.

“Naik kendaraan pribadi saja.”

“Oh naik motor. 150 orang konvoi bawa motor, mobil gitu ? ide bagus ! ayok gas !” ujar Taka sarkas menanggapi omongan Topan.

“Itu cuma usulan.”

“Lu diem aja kalau gak punya ide lebih bagus daripada Taka. Naik mobil box tidak akan mengundang perhatian dari siapa-siapa. Terlalu mencolok jika kita kesana pakai kendaraan pribadi. Toh dari sini ke hotel ABX gak sampai 20 menit.”

“86 Ndaann. Yadah gue hitung jumlah anak-anak dulu. Tadi gue sempat hitung kasar ada sekitar 150an anak. Jika satu box 15 orang. Berarti lu butuh 10 mobil,” kata Topan yang memilih menuruti apa kata kami.

“Lu pastiin secepatnya, karena butuh waktu juga nunggu 10 mobil box untuk datang kesini.”

Topan mengangguk.

“Hanya segini yang datang malam ini, para bedebah pengecut, tidak sampai separuh dari full force,” umpat Bobo kesal ketika Topan berkeliling untuk menghitung berapa jumlah pasti orang yang berkumpul di sini.

“Hey Bo, malam ini kita kumpul bukan untuk safari, tetapi mau perang. Mereka yang tidak datang bukan berarti pengecut. Mereka sudah punya agenda masing- masing,” gue menegur Bobo.

“Agenda apaan ? udah jelas-jelas mereka gak datang karena gak punya nyali. Bisa ya mereka seperti itu..cuh !” respon Bobo sengit sembari meludah ke lantai.

Gue langsung menghampiri Bobo, memegang kerah jaketnya kemudian mendorong dia hingga terdesak ke dinding.

Suara benturan sudah pasti mengundang perhatian anak-anak tetapi gue tidak peduli. Di situasi seperti sekarang ini, gue perlu meminimalisir gangguan-gangguan tidak perlu ke pikiran anak-anak.

“Apa-apan lu Sad!” Bobo coba memberontak dengan balik mencengkram kedua tangan gue yang sudah mengunci kerah jaket sehingga agak mencekiknya, tetapi cengkraman gue lebih kokoh dari Bobo. Muka Bobo memerah saat gue mengeratkan kuncian di kerahnya.

“Jaga bacot lu. Respect their decision. Semua orang bebas membuat keputusan masing-masing. Sejak awal, tidak ada keharusan setiap kru wajib datang. Sifatnya sukarela dan tanpa paksaaan. Gue lebih baik memilki 150 orang yang siap mental untuk mati malam ini daripada 400 orang dimana 300 di antaranya datang kesini hanya karena sungkan, emosi sesaat atau apapun yang membuat mereka tidak fokus. Siapapun yang tidak fokus ketika clash sudah terjadi, akibatnya bisa fatal dan ujungnya mati konyol sia-sia.

Ini peringatan terakhir dari gue, sekali lagi lu ungkit masalah ini, lu gue habisin, di sini sekarang juga. Paham ?”

Bobo berhenti memberontak, ia membuang mukanya kemudian mengangguk.

“Jawab gue bangsat, jangan cuma mengangguk.”

PLAK !

Telapak tangan gue pun menyambar pipi Bobo.

“Yaa, gue paham !” serunya.

Gue lepas cengkraman dan mendorong Bobo. Wajahnya memerah memendam amarah, tetapi ia tidak mengatakan apa-apa.

“Simpan tenaga lo, kalau kita sudah berada di lokasi, di sana lo bisa ngamuk sepuasnya,” kata gue kepada Bobo sembari menyelipkan sebatang rokok di antara sela kuping kanannya. “Lo cek peralatan anak-anak, pastikan mereka bawa pegangan. Jangan sampai polosan.”

Bobo mengangguk lalu cabut untuk mengecek persiapan anek senjata yang tadi di bagi-bagikan ke anak-anak. Mulai dari senjata tumpul hingga sajam, semua lengkap.

Topan adalah salah satu kawan dekat dari almarhum Trias dan mereka berasal dari satu angkatan yang sama di STM ZZZ. Sementara Bobo adik kelas dari almarhum Sindu di SMA NEGERI YYY. Bobo sangat loyal kepada Sindu sehingga ketika Sindu tahu Bobo tidak bisa lanjut ke perguruan tinggi karena perkara biaya, dia memberikan Bobo pekerjaan sebagai sekuriti di salah satu café milik Sindu yakni BARAK. Kehadiran Topan dan Bobo sebenarnya memang cukup membantu dalam memobilisasi massa terutama para kru dari PIG dan VENOM. Mereka juga keras dan militan hanya saja mereka belum bisa di ajak untuk “berpikir berat”. Lebih cocok sebagai pelaksana saja.

“Brengsek lu Sad. Nampol Bobo gak ajak-ajak, haha” tukas Taka.

“Dia memang perlu di ingatkan dengan keras dan tegas. Jangan sampai amarah membuat dia jadi goblok. Bukan Cuma dia doang yang berduka karena kehilangan Trias dan Sindu. Semua yang sudah datang kesini juga merasakan rasa duka yang sama.”

“Betul. Sad, kalau benar kata Topan yang datang malam ini 150an anak, kira-kira bakalan cukup gak ? Bang Joseph tidak memberitahu ada berapa jumlah cecunguk yang ada di Hotel ABX.”

“250an para bajingan sudah memulai pesta sejak beberapa jam yang lalu, di ballroom,” kata gue sembari melihat jam di arloji yang sudah menunjukkan waktu jam setengah dua belas malam.

Fuck, tahu darimana lo ?”

“Ridwan tadi sore udah gue tugaskan untuk cari tahu tentang acara spesial di Hotel ABX. Setelah mengeluarkan modal beberapa ratus ribu rupiah, dia bisa membuat salah satu petugas resto hotel membocorkan perkiraaan jumlah tamu yang menyewa ballroom yang ada di lantai 3. Infonya mereka menyiapkan makanan dan minuman yang cukup untuk 250 orang. Seluruh kamar di lantai dua dan tiga juga sudah di booking. Singkatnya, untuk malam ini hotel ABX sudah menjadi homebase bagi FOURKING dan WARLORD.”

“Hm…selisih 100 orang ya. Banyak juga, belum lagi jika mereka memanggil backup dari luar.”

“Takut lu ?”

Pffft !! Justru semangat gue makin berkobar karena bisa ketemu dengan banyak mangsa! eh tapi brengsek juga si Elang punya banyak duit. Meski hotel ABX adalah hotel bintang 2 tetapi tetap gak murah booking semua kamar plus membuat pesta untuk 250 orang di ballroom.”

“Tentu saja aliran duit Elang yang kenceng dari dua stream. Dari bokapnya dan hasil upeti dari para budak WARLORD. Elang sudah mengubah WARLORD bukan cuma sebagai grup siswa begundal terkuat di Kota, ia juga menjadikan WARLORD sebagai mesin pencetak uang.”

“Jaman Boy, gak segitunya dia memanfaatkan Bloody Hell sebagai mesin pencetak uang. Boy murni menguasai, mendominasi lebih karena faktor ambisi dan ambisi super duper tinggi, menjadi alpha dari semua begundal serta top dogs.”

“Ya semuanya tergantung dari the man behind the wheel. Selain itu zaman juga sudah berubah. Siswa begundal di era sekarang sudah semakin terbiasa memiliki koneksi serta akses ke grup bawah tanah, membuat mereka kini hampir tidak ada beda dengan para gangster. Highschool gangster.”

“Dan THE ELDER berada di balik mereka. Gue yakin mereka punya rencana bangsat. Punya duit, punya kuasa. Lalu membuat permainan yang membuat mereka senang bukan kepalang.”

“No komen. Gue udah muak membicarakan mereka.”

“Haha, tumben elo bisa merasa muak. Btw, elo jadinya kabarin Dewa tentang rencana kita malam ini ?”

“Ya.”

“Gue sependapat dengan Bang Josh kemarin tentang Dewa. Dia sudah menghilang beberapa bulan dengan cerita gak enak yang menyertainya. Lalu ketika kita sedang berduka dia tiba-tiba datang, menceritakan alasan kenapa dia cabut dari LPH dan mengutarakan keinginan untuk ikut ke dalam aksi serangan.

Sebuah cerita yang cukup dramatis dan melankolis sekaligus mustahil untuk mengkonfirmasi kebenaran cerita tersebut kepada orang-oang yang sudah Dewa singgung. Bang Oland yang mempreteli status serta membuang nama kita dari sejarah LPH dan dia juga yang sudah membuat Dewa bakalan makan taik kalau dia menyuruh Dewa untuk melakukannya. Somethin fishy in the air. Did you smell that shit ?”

“Ya gue paham tentang peringatan tersebut serta kekhawatiran elo tentang kemungkinan hidden agenda yang di bawa sama Dewa. Tetapi asli gue lelah mikir kejauhan, karena pendapat gue pribadi, gak ada yang salah dengan kemunculan Dewa. Dia datang di momen yang tepat.

Tak, coba elu dan Dewa bertukar posisi. Kalau lu sedang ngelayap di antah-berantah lalu elu denger gue, Sindu dan Trias mampus kena bunuh sama orang, apa yang lu bakal lakuin ? Gak usah lo jawab dengan lisan. Gue udah tahu jawabannya.”

“Brengsek, gue paling sebel beradu bacot sama elu. Licin bener kayak meki botak.”

“Lu masih doyan meki ? gue kira semenjak kenal sama bo’ol, lu udah lupa kembali ke jalan yang benar.”

“Ah gak ada yang namanya kembali ke jalan yang benar kalau urusan seks. Selama seks terlampiaskan sampai orgasme ke tingkat nirvana, semuanya halal.”

“Elu gay ?”

“Kagaklah. Gue Cuma biseks yang suka mengeksplorasi apapun demi orgasme paling paripurna.”

“Jancuk. Itu sama aja.”

“Beda. Gue top, bukan bot.”

“Sedari dulu, di antar kita berempat. Berlima. Elo memang punya kebiasaan antimainstream super supreme, terutama urusan selangkangan.”

“Ya hidup Cuma sekali, mesti berani keluar dari zona nyaman.”

“Keluar dari zona nyaman versi elo terlalu menukik tajam, nyet.”

“Jadi salah satu percakapan terakhir dari kita adalah perkara orientasi seksual gue yang lebih liberal daripada kalian semua ? oke, I’ll take it as compliment.”

“Daripada membicarakan sesuatu yang berat, kontrolnya di luar kuasa kita, yah this is better, although so fucking disgusting.”

Taka tertawa tergelak. “Gue juga sebenarnya tidak ingin memikirkan sesuatu yang berat, biar gue bisa lebih fokus. Karena jika ada kesempatan untuk survive, I’ll take it. Gue gak keberatan tamat malam ini, kalau itu memang takdir gue, tetapi syarat dan ketentuan berlaku.”

Gue lalu menoleh ke arah Taka. “Dafuq? Emang Ryuk bakalan tunduk sama syarat dari elo ?”

“Hehehe, I’m gonna sold my soul to shinigami if he granted my wish first.

“Lu mabuk ? come on. Lu bukan lagi anak SMA yang mesti mabok dulu biar berani berdiri paling depan saat pecah tawuran.”

“Bidji. Mana pernah gue mabuk kalau tawuran sama sekolah lu ? minum-minum dulu memang iya tapi I’m sober enough to kick your flat ass.”

Gue dan Taka malah tertawa geli. Mengenang masa muda penuh kelakar beberapa jam sebelum kami mempertaruhkan masa depan demi sebuah pembalasan.

“Sad, semisal terjadi sesuatu di Hotel ABX nanti malam, yang membuat Elang katakanlah mokad, siapapun di antara kita yang masih hidup, sepertinya bakal jadi buruan THE ELDER dan PURGE.”

“Gue no komen soal itu. Gue mau jalanin semuanya satu-satu dulu. Mengalir dulu seperti air pejuh muncrat ke meki.”

“Anjing hahaha !”

“Iya serius gue. Buruan utama kita adalah Savic dan Gege, kalau ada Elang di sana, anggap saja bonus.”

“Huehehehe, kalau ada bonus di depan mata, enaknya di apain nih ?”

Gue membuat gerakan menyilang persis di depan leher dengan jari tengah. “Kill’em all.”

“Hahahahahaha !! THAT’S MY GUY !! FUCK THE ELDER ! FUCK EVERYTHING ! FUCK THIS WORLD !”

Gue dan Taka sama-sama memamerkan seringai setelah kami toss.

“Gue udah hitung semua. Coba tebak ada berapa kru yang berkumpul sekarang ?” Topan menghampiri kami berdua lalu melemparkan sebuah pertanyaan. Bobo menguntit Topan dari arah belakang namun ia tidak mengatakan apa-apa.

“150 ? gak gak. 127,” Taka langsung menyambar pertanyaan dari Topan yang terdengar tidak penting sekali.

“Lo gak ikut nebak Bang ?” tanya Topan.

“Gak. Tetapi dari roman muka lo, sepertinya lu punya kabar baik.”

“Hehehe…total ada 180 termasuk kita berempat.”

“Yang bener nih ? lu gak salah hitung kan. Katanya cuma 150an.”

Topan mengangguk dengan penuh keyakinan. “Nyaris semua kru gabungan dari GUY, SAW, PIG dan VENOM, mereka semua datang namun sebagian memilih untuk tetap berada di luar.”

“Nice ! Sad, sebaiknya kita mulai brifing sekarang saja, kita perlu koordinir anak-anak agar serangan nanti tidak terkesan sporadis.”

Gue setuju. “Pan, lu kumpulin semua anak-anak ke sini. Jangan ada yang di luar.”

“Siap.”

“Bo, gimana dengan suplai senjata ? semua dapat ?”

Bobo mengacungkan jempol. “Lebih dari cukup. Sejak awal gue udah siapkan 200an senjata. Anak-anak juga ada yang membawa alat pribadi.”

“Good. Bagikan sekarang, karena setelah selesai brifing, kita berangkat.”

Bobo mengangguk. Topan dan Bobo kemudian segera melakukan tugasnya. Semua anak-anak di kumpulkan ke dalam dan kelihatan jumlah orang terus bertambah. Di antara mereka semua, gue melihat Soleh. Langkahnya tegas dan ekspresinya lebih serius. Soleh di saat yang sama, juga melihat ke arah gue.

Gue mengangguk dan Soleh membalas anggukan dari gue.

Bobo dan beberapa temannya kemudian mengeluarkan beberapa tas hitam yang sangat besar ke tengah ruangan. Ia meminta semua orang untuk mempersenjatai dirinya masing-masing. Sajam menjadi hot item, mayoritas anak mengambil golok, samurai, clurit, belati. Namun tidak sedikit yang memilih mengambil senjata tumpul seperti stik bisbol dari logam, pipa besi, martil dan linggis.

“Tak, lu bisa sediakan 12 mobil ?”

“Harusnya sih ada, lu mulai pidato ke anak-anak, biar gue kontak Lilik, dia yang koordinir mobil box yang bakal kita pakai. Selain itu dia juga perlu mengatur waktu keberangkatan mobil box secara bertahap dengan beberapa rute menuju kesini agar tidak terlalu menarik perhatian.”

“Lu atur aja.”

TEEEETTTT !!! TEETTT !!

Gue kaget dan semua orang yang ada di dalam area kumpul di eks pabrik garmen ini juga terlonjak kaget saat mendengar suara klakson dari luar pintu pabrik. Anak-anak yang berada di dekat pintu, langsung menggeser pintu dan sisanya memasang kewaspadaan tinggi setelah mendapati ada satu truk fuso berwarna serba hitam, dengan lampu sorot tetap menyala terang ke arah bagian dalam ruangan. Membuat mati kami silau.

Sang pengemudi truk kemudian mematikan mesin dan lampu tembaknya, sehingga kini kami bisa melihat siapa gerangan yang membawa satu truk fuso.

Dewa.

Saat Dewa turun dari balik kemudi, dari bagian belakang truknya muncul beberapa orang yang tadinya tidak terlihat. Mereka berdiri dan memukul-mukul box truk dengan stik bisbol, menimbulkan keributan.

“YEAHHHH !!!” sambut anak-anak lain dengan suka cita.

Anak-anak tentu saja tidak merasa takut, karena yang datang adalah Dewa dengan para kru-nya !! jumlah kru dari Dewa memang tidak banyak tetapi mereka sangat militan. Meski mereka semua adalah alumni STM XXX tetapi gue tidak merasa khawatir karena gue kenal dengan mereka semua. Mereka adalah eks-DEADSQUAD yang loyal kepada Dewa bukan kepada STM XXX. The strongest crew di eks LPH Generasi 33.

“Anjing memang si Dewa, gaya benar muncul paling belakang bawa truk segala. Itu truk siapa yang dia maling ? ah tetapi emang kelihatan keren sih..”

“Well, sepertinya dia mengurangi beban pekerjaan elo. 30 orang bisa ikut ke atas truk. Sisanya masuk ke box.”

Dewa tidak ikut bergabung sama gue ke depan, dia memilih tetap berada di belakang.

“Oke, gue telepon Lilik dulu. Lu mulai ngemeng saja.”

“Tar tunggu lo sekalian.”

“Yaelah.”

Sementara Taka koordinasi dengan Lilik via telepon, gue membuka ponsel, masih ada ratusan chat di Whatsapp yang belum gue baca. Salah satunya private chat dari Yosi. Banyak panggilan telepon dari dia yang tidak gue gubris. Sedikit banyak gue tahu apa isi chat serta apa yang mau di bicarakan.

Yosi, stay away from me. This is none of your business. This is my war.

“Tor, kasih gue stik bisbol,” gue meminta Toro yang sedang menenteng stik bisbol.

Toro melemparkan stik yang dia pegang.

Tap.

Handle stik bisbol gue raih. Lalu ponsel gue lempar ke atas. Saat ponsel sudah melayang turun, langsung gue sambar dengan ayunan stik bisbol

SWUUUNG !!!! TRAKK !!!

Ponsel gue terbang melesat ke dinding lalu pecah hancur berantakan.

“Home run.”

“Wanjir, ponsel mahal itu Bangg ! kenapa gak di kasih gue sih,” Toro terkejut karena gue menghancurkan ponsel P50 yang kini sudah jadi bangkai.

“Yadah, lu servis saja kalau bisa.”

“Njir udah jadi bangkai, gak mungkin ada yang bisa di kanibal,” keluhnya.

“Kalau lu mampus malam ini, lu mau ponsel lu di utak atik sama polisi ?”

“Damn. Gue gak mungkin mati malam ini Bang, tetapi kalau gue mangkat malam ini terus ponsel gue di temuin sama polisi kemudian di utak-atik untuk mencari bukti…ah bidji.”

Toro merogoh ponsel dari saku celana, lalu di banting lantai sampai casingnya lepas. Toro menyambar martil besar lalu di hantamkan ke layarnya hingga pecah dan remuk. “Daripada gue malu tujuh turunan !” seru Toro.

Banyak yang tertawa melihat kelakuan Toro dan beberapa mengikuti hal yang sama, yang sudah gue dan Toro lakukan. Merusak ponsel yang mereka bawa.

Buat anak-anak yang terbiasa tawuran, sudah tahu apa yang mesti di lakukan. Tidak membawa dompet berisi identitas diri serta ponsel. Pokoknya segala sesuatu yang mengandung atribut informasi, mesti di minimalisir total. Kami harus menjadi anonim.

“Beres. 10 mobil box secara bertahap sudah mulai menuju ke sini. 15 menit lagi mereka sudah ready menunggu di pintu belakang,” jelas Taka.

“Good.”

Taka mengambil stik bisbol yang gue pegang, “Nih, gue kasih lihat home run yang sebenarnya.”

Taka melempar ponselnya ke atas lalu saat ponselnya melayang di udara, langsung di hantam dengan stik bisbol. Ponsel tidak langsung pecah saat terkena pukulan, ponsel Taka baru hancur saat membentur ke dinding yang memang berada di belakang sana.

“Nih baru the real homerun..” ejek Taka dan melemparkan stik bisbol ke gue.

“Cih.”

“Dah, kalau elu mau brifing sekarang. GUYS, MERAPAT SEBENTAR ! KOORDINASI !” teriak Taka.

Anak-anak pun merapatkan barisan.

Taka benar, ini saatnya.

“15 menit lagi kita berangkat, menggunakan 10 mobil box dan 1 truk. Kita nanti akan turun di tanah kosong, 200 meter dari Hotel ABX. Selanjutnya kita gerilya di sana. Sasaran utama kita adalah dua jancuk bernama Savic dan Gege, beserta para kru FOURKING dan WARLORD. Info yang gue dapat, mereka berjumlah 250an orang. Satu hotel sudah di sewa oleh mereka semua, jadi tidak akan ada tamu dari warga sipil. Kalian bisa bantai semua yang ada di sana. Kecuali para staf hotel. Tidak menutup kemungkinan akan ada perempuan-perempuan yang ada di ballroom. Gue gak perlu definisikan dengan jelas siapa perempuan tersebut, kalian sudah tahu sendiri. Biarkan perempuan tersebut melarikan diri.

Gue lalu menunjuk 15 orang secara random yang di dekat gue.

“Kalian berlima belas punya tugas untuk mengumpulkan semua staff hotel dan para perempuan di satu ruangan. Sekap mereka di tempat aman, ambil semua alat komunikasi milik mereka jangan sampai mereka bisa memanggil polisi. Hotel ABX memang berada di dareah yang jarang di patroli oleh Polisi, tetapi gue gak mau kita lengah. Kehadiran Polisi bisa mengacaukan semuanya. Paham ?”

“Siap !!” seru mereka bersepuluh serempak.

“Ingat, kalian hanya menyekap mereka, jika ada yang melakukan perlawanan, lumpuhkan segera dengan efek seminimal mungkin. Mereka bukan target kita, mereka hanyalah orang yang berada di tempat yang salah pada malam ini.”

Mereka mengangguk dengan tatapan wajah serius.

“Setelah semua staff hotel di amankan. Gue perlu 15 orang lagi untuk melakukan penyisiran mencari lokasi server hotel. Hancurkan jaringan internet dan semua jaringan komunikasi lokal, ruang kendali CCTV dan tanamkan alat jammers pemutus sinyal, jadi siapapun yang ada di dalam Hotel ABX tidak akan bisa melakukan kontak dengan orang di luar. Setelah aman, kalian menjaga perimeter di beberapa pintu akses. Kalian berjaga memantau situasi yang ada di luar. Gak ada yang bisa masuk, gak ada yang bisa keluar.”

Berikutnya gue menunjuk 15 orang untuk tugas tersebut dan mereka yang gue tunjuk, langsung merespon dengan teriakan penuh semangat.

“Selain mereka, tiga puluh orang yang sudah gue tunjuk, kita langsung menuju ballroom dan bergabung ke pesta mereka. Yang akan kita lakukan adalah murni tindak kriminal. Penyekapan, penyanderaan, sabotase, pengrusakan properti dan tentu saja pembunuhan. Meski Hotel ABX sudah kita sterilkan, tidak ada gangguan dari luar, kita tidak bisa berlama-lama disana. Paling maksimal 2 jam.

Siapapun di antara kita nanti, yang masih bisa bertahan dan hidup, setelah misi pembantaian, segera keluar dari Hotel dan pergi secepat dan sejauh mungkin dari Kota XXX. Jangan melakukan kontak kepada siapapun yang ada di Kota XXX sampai 6 bulan pertama. Anggap saja kita sudah menjadi DPO dan sejak hari itu, resiko di tanggung masing-masing.

Gue ingatkan, apa yang akan kita lakukan malam ini adalah sebuah tindak kejahatan pembunuhan massal secara terencana dengan ancaman hukuman maksimum yakni vonis hukuman mati.

Buat nanti yang tidak bisa kabur atau sudah mencoba kabur namun di kemudian hari tertangkap oleh polisi, karahkan semua penyelidikan polisi ke gue. Gue sebagai otak dari pembantaian malam ini.”

“Enak aja, gue juga cuk ! Pokoknya posisi kalian cuma kroco. Gue dan Taka adalah perencana serangan. Paham ya! ” potong Taka.

Mereka semua mengangguk.

We have no immune and backup. Just us. A bunch pack of wolf. fucking angry wolf. Some of us maybe won’t survive after this night. So take your time to say goodbye to your family…” lanjut gue.

Anak-anak menatap gue lalu membuang lalu menghancurkan semua ponsel yang mereka miliki sehingga di lantai kini ada banyak sekali bangkai ponsel.

“THIS IS MY FAMILY !!!”

“YEAH LETS MAKING WAR !!!”

Put our mask for the last time, my friends. Because tonight, we’re going to burn half of this city. This is how we take redemption, to this fucking corrupted world...”

“YOSHHHHHH !!!!” ucap anak-anak sembari mengangkat senjata yang mereka pegang.

Gue dan Taka lalu memasang topeng untuk yang terakhir kalinya.

Gue kemudian melihat ke arah seseorang yang berdiri jauh di belakang anak-anak.

Dia juga sudah mengenakan topengnya. Dia mengangguk.

GUY. SAW. DEAD.

REPORTING IN.

FOR THE WAR.

OUR LAST WAR.

“WE’RE GONNA MAKE A FUCKING BIG MASSACRE IN TOWN TONIGHT !!!”

****

 

Mobil Box terakhir yang membawa gue, Taka serta beberapa anak yang lain, langsung pergi setelah mengantar kami ke lokasi drop-off di sebuah tanah lapang yang di tumbuhi ilalang dan tidak ada penerangan. Kami lalu bergabung dengan anak-anak yang sudah menunggu di tengah gelapnya malam. Kami tidak langsung bergerak, kami menunggu Dewa yang membawa 30 orang. Dewa memarkirkan truk lebih jauh, di depan sebuah proyek pembangunan rumah KPR yang berjarah 500 meter dari sini.

Tidak ada yang berbicara, semuanya terdiam berlindung dari gelapnya malam. Udara terasa menggigit. Gue lihat jam, sudah jam setengah satu dini hari, pantas saja jika hawa begitu dingin. Dari posisi gue sekarang ini, gue bisa melihat Hotel ABX di sisi Utara yang nampak dari sisi belakangnya saja berupa tembok tinggi.

Setelah beberapa saat, gue melihat sekawanan orang berjalan dengan cepat, mendekat ke arah kami. Gue lalu meminta anak-anak untuk bergerak sehingga kini kami bergabung memenuhi jalanan yang sepi dengan ruko di kiri kanan yang tutup. Area Hotel ABX bukanlah sentra area yang bagus untuk mendirikan usaha akibat pembukaan jalur tol baru yang tidak jauh dari sini, mematikan para pemilik ruko terutama pemilik usaha kuliner.

Gue, Taka dan Dewa berjalan paling depan.

Ketika sudah dekat gerbang utama Hotel ABX, gue berikan kode kepada anak-anak. Tim sapu bersih dan tim pengamanan langsung bergerak lebih dahulu. Gue tunggu kurang lebih 5 menit, kemudian kami semua masuk ke halaman hotel. Di pos satpam gue lihat satu sekuriti sudah di lumpuhkan dengan kedua tangan terikat, mulut di sumpal lakban dan mata di tutup oleh kain.

Anak yang mengamankan satpam meminta agar sekuriti bertindak kooperatif. Setelah satpam sudah tenang, tidak memberontak, dia di masukkan ke ruangan posko lalu di kunci dari luar. Sementara anak-anak lain berjaga di sekitar pintu masuk.

Gue baru masuk ke lobi setelah menerima laporan kalau semua staff hotel sudah di amankan di beberapa ruangan, ruang server sudah di amankan, jaringan internet dan sinyal komunikasi sudah di matikan dengan pemasangan jammers.

“Sudah aman bos. Tidak ada perlawanan, semua sesuai rencana. Gue lihat di CCTV yang ada di ballroom, semua orang ada di sana, tengah berpesta minuman serta pesta seks.”

“Hoho, tetap seperti dugaan gue. Mereka pasti tidak akan berpesta sendirian. Ada entertaiment lain. Savic dan Gege ada ?”

“Ada bos. Bahkan Elang juga ada. Di bersama sekitar seratusan kru WARLORD.”

“Darimana lo tahu ada ratusan kru WARLORD sedang bersama dia ?”

“Kru WARLORD hampir semuanya mengenakan atribut jaket warna merah khas WARLORD.”

“Ah i see.”

“Yataaa !!! Tiga orang yang kita incar kepalanya ada di dalam, bahkan semesta merestui banjir darah malam ini……” seru Taka senang.

“Elang jatah gue, ingat itu.” tukas Dewa.

“Iya, iya bangsat. Gue ambil Savic, bedebah berambut perak yang sudah membunuh Trias dan tiga pegawai JERK-OFF distro.”

Gue berarti menangani Gege, yang sudah membuat Sindu terbunuh di jalan raya.

Gue berbalik menatap anak-anak.

“Ballroom ada di lantai 3. Setelah kita masuk ke dalam ballroom. Bantai semuanya. tanpa sisa.”

“Termasuk perek yang sedang mereka gangbang ?”

“Perlu gue detailkan ?”

Dia langsung terdiam.

“Pembantaian FOURKING dan WARLORD, resmi di mulai…!”

Gue membalik badan kemudian berlari paling depan. Anak-anak menyusul gue berlarian sepanjang koridor hotel. Ada lift namun gue memilih berlari di anak tangga. Lari gue semakin kencang saat menemukan papan petunjuk yang mengarahkan kami menuju ballroom.

BRUAKKK !!!

Pintu terbuka ketika gue tendang dan gue melihat semua bangsat yang ada di dalam, melihat ke arah gue.

The fuck ???” umpat orang yang sedang menggarap perek dengan posisi doggy style. Sementara si perek sedang mengulum kemaluan orang yang berdiri di depannya.

“BUNUHHHHHH SEMUAANYAAAA !!!”

“SERAAAAAAANGGG !!”

Bak air bah, puluhan hingga ratusan kru LPH muncul dari arah belakang gue. Dua orang pria dan satu cewek yang sedang pesta seks menjadi martir. Mereka terbunuh akibat sabetan samurai ke leher, pukulan pipa besi ke bagian belakang kepalanya dan hantaman linggis yang memecah batok kepala. Suasana di ballroom langsung riuh ramai dan bau amis darah menguat ketika kru LPH yang bersenjata memburu setiap musuh yang ada.

Darah memercik, anggota badan terputus, teriakan rasa sakit ketika badan tercabik oleh senjata tajam tersaji di depan mata.

Gue masih diam mengamati. Taka dan Dewa ikut bergabung.

“So this is hell look alike …”

“This is a human being for…to kill each other…”

Gue tidak bisa melihat keberadaan Elang, Savic dan Gege. Jangan-jangan mereka malah sudah terbunuh oleh serangan ini

Kru FOURKING dan WARLORD jelas tidak siap menerima serangan penghabisan seperti sehingga mereka pontang-panting. Selain itu kondisi mereka kebanyakan sedang teler, efek dari minuman keras maupun drugs yang tengah mereka konsumsi, membuat mereka menjadi sasaran empuk. Ketika mereka berlari keluar melalui pintu belakang ballroom, mereka sudah di sambut oleh kru LPH yang bersiaga menjaga pintu keluar.

crash !!!crash !!!crash !!!crash !!!crash !!!

Jumlah mereka yang tadinya berjumlah lebih banyak lalu merosot dengan drastis. Bahkan mulai lebih sedikit daripada kami.

Namun perlahan tapi pasti, kru LPH yang tadinya menguasai clash kini mulai banyak juga tewas. Kru mereka bisa membalikkan keadaan. Semakin banyak kru LPH yang bersimbah darah, tidak menyangka kalau lawan bisa melakukan recovery dengan cepat.

Gue melihat Elang, Gege dan Savic sedang membantai kru LPH yang mencoba menyerang mereka. Mereka bertiga mempersenjatai diri dengan belati di tangan, mereka bertiga nampak sangat expert sekali menggunakan belati.

“Ah syukurlah….target gue gak mampus..” ujar Taka.

“Itu tanda bahwa sekarang saatnya buat kita untuk maju ke medan perang,” sahut Dewa kemudian ia berlari mendahului kami dengan mengayunkan linggis menyerang kru FOURKING yang berada di jalur serangannya.

“Sad ! jangan mati dengan mudah lu !! ” Taka pun melesat dengan menghunus belati di tangan kiri.

Tiga kru WARLORD yang sudah bermandikan darah dan memegang clurit coba menghadang Taka.

Syutt !!

Taka melempar belati yang ia pegang ke arah satu kru WARLORD yang berdiri paling depan.

Jleb !!

Belati menancap ke leher lalu dia mati seketika. Taka terus berlari sambil tertawa. Dua kru WARLORD yang sempat kaget langsung cepat menyerang dengan ayunan samurai serta clurit.

Karena arah ayunan sajam vertikal dari atas ke bawah, Taka mengelak dengan ke samping. Dari saku celana kargo yang ia kenakan, Taka mengambil satu belati kemudian ia menusuk samping perut lawan yang berada persis di sebelahnya dengan cepat kemudian menunduk untuk menunduk paha kiri dari belakang. Orang itu pun ambruk dan menyisakan satu lawan yang menghunus samurai.

Sebelum dia mulai bergerak, Taka kembali menunjukkan skillnya dalam menghandle belati.

Jleb !!!

Pisau di lempar dari jarak dekat dan menancap persis di perut lawannya yang sudah mengangkat samurai. Samurai jatuh terlepas dari tangannya ketika dia memegangi perutnya yang sudah tertancap belati. Taka segera menyambar samurai yang terjatuh lalu.

Crasssss !!!

Tangan kiri kru WARLORD tersebut terpisah dari anggota badannya yang lain. Anak malang itu lalu menatap dengan nanar pergelangan tangan kirinya yang buntung dan menyemburkan darah. Pandangan matanya nampak kosong, lalu ia jatuh terduduk. Ia menatap perutnya yang juga berdarah karena ada belati menacap, kemudian ia menatap kembali pergelangan tangan kirinya. Wajahnya memutih dengan cepat karena kehilangan banyak darah…

Mati karena kehilangan banyak darah adalah salah satu cara mati paling menyakitkan, jauh lebih menyiksa. Taka membiarkan anak tersebut mati perlahan.

Taka menatap ke arah gue, meski wajahnya tertutup topeng, gue bisa melihat senyum bengis yang tersungging di balik topeng.

Gue mengacungkan jempol.

Taka lalu kembali menggila mencari mangsa.

Melihat Taka dan Dewa sudah beraksi, membuat gue merasa gatal. Gue berjalan dengan santai dan mengambil pipa besi yang tergeletak. Tak butuh waktu lama, lawan gue datang menghampiri.

Empat lawan sekaligus. Mereka semua memegang belati yang penuh darah. Wajah mereka penuh bercak darah, nafas mereka naik turun dengan cepat, pertanda mereka di benak mereka cuma ada keinginan untuk membunuh siapa saja.

Satu orang memakai jaket WARLORD, tiga lagi memakai baju biasa. Tiga orang ini pasti kru FOURKING.

SWUSHHH !

Gue meloncat sembari mengayun pipa besi namun serangan gue terlihat sangat polos sehingga mudah di hindari.

Satu orang yang gue serang, langsung membalas dengan hujaman belati ke bagian perut.

Dia masuk ke perangkap gue.

Gue sengaja memancing dia dengan serangan yang nampak asal-asalan, karena yang gue mengicar kelengahannya.

KRAK !!!

Tangan yang menghunus pisau langsung patah saat gue hantam dengan pipa besi. Belati terjatuh lalu diiringi suara lolong kesakitan. Gue tendang dadanya sehingga ia terdorong ke belakang. Tiga temannya langsung mengerubungi gue dan mereka lebih cerdas, tidak mau gegabah. Mereka berjalan pelan mengitari gue. Gue berdiri di tengah, santai namun tetap waspada.

Come on...gue sendirian…tetapi kalian yang bertiga malah ketakutan…pfftt !”

Dua dari mereka berpandangan, lalu mengangguk, gue pun bersiap karena mereka hendak menyerang bersamaan. Dan orang yang agak di belakang gue, mengincar blindspot juga tidak akan melewatkan kesempatan untuk memanfaatkan keadaan.

Oke, gue merasa tanda bahaya paling kuat muncul dari arah belakang. Gue pun memlih merangsek maju sembari mengayunkan pipa besi dengan sudut 45 derajat. Dua orang di depan kaget dan gue bisa merasakan orang yang di belakang, menggeram kesal karena gagal membokong gue.

Satu orang bereaksi lebih lamban sehingga ujung pipa berhasil menyambar ujung pisau yang ia hunus. Di saat yang sama ia kesakitan karena saat pisau terlempar, ujungnya menggores telapak tangan. Gue punya kesempatan untuk melancarkan serangan berikutnya tetapi, gue memilih mundur menyamping.

Dan benar saja, orang yang sedari tadi mengincar punggung gue juga membuat gerakan menusuk.

Kalau gue tadi terlalu bernafsu menyerang, gue bakal lengah dan punggung gue bakal berlobang.

“Ups…melesat..” ejek gue.

Dia terlihat kesal dan kini ketiganya berada di depan gue. Tanpa membuang waktu lebih lama, pipa besi gue lempar kuat-kuat ke arahnya.

DUAHH !!!!!

Pipa besi mengenai mukanya, pendarahan luar biasa di bagian hidung menjadi penanda kalau hidungnya patah. Dia terhuyung ke belakang, hantaman tadi selain membuat hidungnya patah, sudah pasti membuat kepalanya seperti pecah, sehingga kehilangan keseimbangan.

Dua dari mereka sedang berjuang mengatasi rasa sakit, menyisakan satu anak berjaket WARLORD. Gue tantang dia untuk maju dan dia menyambut tantangan gue dengan menyabet-nyabetkan ujung belati.

Tentu saja bisa gue hindari dengan mudah karena gerakannya lambat. Gue tangkis pergelangannya ke atas sehingga mata pisau menghadap ke atas. Lalu gue masukkan satu tonjokan kiri tepat ke bagian jakun leher.

Mata dia melotot, wajahnya memerah, pisau ia lepaskan begitu saja, karena ia seperti orang tercekik saat jakunnya gue pukul.

BAM !!!!

Gue sambar sekali lagi batang lehernya dengan tendangan memutar. Dia terkapar mati dengan luka parah di bagian jakun, mungkin pecah dan menghambat saluran pernafasannya.

Rasanya lebih puas kalau bisa bunuh orang dengan tangan kosong.

Dua orang yang tersisa, sudah menemukan kembali kesadarannya. Mereka mengepalkan kedua tangannnya, pertanda ingin duel tangan kosong. Entah dari mana muncul lagi dua orang, mereka juga tidak membawa pegangan.

“Tunjukkin muka lo bangsat, lo sengaja pake topeng karena gak kuat kena pukul…”

“Hahahah !” gue ketawa.

“Keinginan terakhir lo, approved.”

Gue pun melepas topeng. “It’s to late to surrender. I’m gonna kill all of you with my fist.

Mereka terperanjat karena gue yang malah mengambil inisiatif menyerang terlebih dahulu.

DUAGH !

Satu lawan yang berdiri paling depan terjengkang ke belakang saat gue meloncat dan menendang dadanya. Begitu menjejak ke aspal, lawan di sisi kanan gue berikan salam perkenalan dengan pukulan kombo kiri-kanan dengan cepat.

BUGH ! BUGH !

Dia mengerang memegangi mukanya yang gue tampol pake tinju. Dalam kondisi normal, gue akan terus maju menyerangnya sampai dia bobo manis. Namun gue sadar gue kini di kelilingi beberapa lawan sekaligus. Lebih tepatnya maih ada tiga orang yang hendak membokong gue dari belakang.

SYUT !

Gue eratkan kepalan di tangan kiri lalu gue ayunkan secara menyamping ke arah belakang.

DUAGH !

Pukulan tadi rupanya mengenai telinga kirinya, membuat matanya terpejam. Gue langsung pegang rambutnya dari atas dengan tangan kiri.

BUAGH !

Wajahnya terdongak ke belakang dan darah yang gue alirkan paksa dari lubang hidungnya sampai memercik ke udara saat tinju kanan gue dengan sempurna menghantam tepat di bagian tengah wajahnya alias hidung. Gue belum puas, gue tarik kepalanya ke bawah, mau gue adu dengan lutut !

BAM !!!!

Mukanya berdarah-darah, gue akhiri dengan tinju kiri tepat ke rongga matanya.

BAM !!!

Dia tidak bergerak lagi, tetapi gue lengah dan terkena tendangan di belakang lutut kiri, membuat gue jatuh berlutut dan merasa kesakitan.

BUAGH !

Langsung muka gue kena sambar pukulan.

Perih.

Hingga kemudian ada lengan mencekik leher gue dari belakang. Kuat sekali dan kokoh, alhasil perut gue jadi sansak mereka !

BUAGH !!BUAGH !!BUAGH !!BUAGH !!BUAGH !!

Gue memang sudah mengencangkan otot perut tetapi kalau di keroyok gini gue gak mungkin bisa bertahan lebih lama.

Gue cabik lengan yang ada di depan muka dengan sebuah gigitan. Darah mengucur ketika satu kerat daging gue koyak.

“Arghhhhh !!!” dia berteriak.

“Bangsat !! tusuk aja dia langsung !!! tusukk !!” gue dengar teriakan dari teman-temannya.

Sebelum gue kena tusuk saat melawan para kroco, lengan yang sudah mengendur langsung gue cengkram kemudian gue kerahkan tenaga untuk membantingnya ke arah depan.

“Heeeeaaaaatttttt!!”

Orang yang gue banting menimpa dua temannnya sehingga mereka terjerembap jatuh. Satu orang kaget . Langsung saja gue meloncat dan mengarahkan lutut kanan ke dadanya.

DUAGH !!!

Dia terdorong ke belakang dan matany mendelik merah. Urat di lehernya menegang, benturan di dada membuat dia susah bernafas.

Gue hampiri kemudian…

BAM !!!BAM !!!BAM !!!BAM !!!BAM !!!BAM !!!BAM !!!

Gue hujani dadanya dengan pukulan sekuat tenaga, sampai ia menyembur-nyemburkan darah dari mulut dan memercik ke muka.

Gue baru berhenti memukuli dadanya ketika ia tergolek tewas dengan bagian dada sedikit melesak ke dalam.

Tanpa membuang waktu, saat ketiga orang itu sudah berdiri, gue merangsek ke arah mereka.

BAM !!!BAM !!!BAM !!!

Ketiganya gue kasih combo straight !!!!

Secara bersamaan mereka reflek memegangi hidung yang auto mimisan.

BAM !!

Gue sambar orang pertama dengan uppercut kiri sehingga badannya terlonjak dan ambruk ke belakang. Dia mengerang kesakitan langsung gue sambar kepalanya dengan tendangan.

BUAHHHH !!!!!!

Dari mulutnya keluar busa, matanya mendelik, ia kejang. Benturan di kepala, berakibat fatal ia pasti mengalami pendarahan di bagian dalam kepalanya. Lalu tiba-tiba dia berhenti kejang. Perlahan dari lubang kupingnya mengalir darah.

Next target !! Orang kedua menyadari kalau gue menyasar dirinya. Tapi gue lebih cepat.

“ARRGHHH !!!” dia berteriak saat gue colok salah satu matanya dengan jari telunjuk.

Kemudian gue selesaikan dengan tendangan yang mengenai tengkuknya. Dia ambruk mencium lantai.

BUAGH !!!BUAGH !!!BUAGH !!!

Gue injak belakang kepalanya tiga kali, biar dia mampus.

Orang ketiga atau lawan terakhir yang sudah pulih dari rasa sakit, merangsek maju dengan mengayunkan pukulan, gue cukup memundurkan badan sedikit karena jangkauannya masih jauh. Gue tahu ini cuma pukulan tipuan karena serangan dia yang sebenarnya adalah…

TAP !

Gue menyeringai karena tendangannya yang di arahkan ke selangkangan gue, berhasil gue cegah dan kini kaki kanannya gue pegang.

Dia lalu berusaha menarik kaki kanannya, tapi pegangan gue sudah kadung kuat. Karena ia memakai sepatu converse, jadi enak megang kakinya. Gue puntir pergelangan kakinya ke arah kiri lalu ke kanan dengan cepat, lalu gue tarik ke belakang, membuat dia mau tak mau mesti meloncat-loncat ke depan mengikuti tarikan.

Gue sepak satu kakinya sehingga ia terjerembap ke aspal. Ia berusaha segera bangun dan itu kesalahannya. Gue sepak dagunya.

DUGH !!!

Kedua bola matanya langsung bergulir ke atas, ia pingsan dengan mulut sedikit mengangga. Gue menghampiri dia, gue jepit lehernya dari belakang, lalu gue sentakkan kepalanya.

TEK !!

Dia pun berhenti bernafas ketika batang lehernya gue patahkan.

Gue lalu berdiri dan melihat sekeliling.

Mayat bergelimpangan di mana-mana, masih ada yang mengerang atau merangkak meski ada anggota badanya yang putus. Namun ia tidak bisa pergi lebih jauh saat lawannya menggorok lehernya dari belakang.

Orang yang barusan menggorok lawannya adalah Soleh.

Soleh juga sudah tidak mengenakan topeng. Ia tertawa ke arah gue.

Namun… ia lengah dan tidak menyadari ada orang yang sudah berada di belakangnya.

Lalu dengan gerakan yang sangat cepat, dia membenamkan ujung belati ke leher samping Soleh.

Darah menyembur deras sekali, badan Soleh bergetar, pisau jatuh dari genggaman tangannya.

Orang yang menusuk leher Soleh dari arah belakang, belum selesai, karena ia kemudian merentangkan tangannya ke depan lalu menghujamkan mata pisau ke tepat ke dada Soleh.

JLEB…..

Kedua bola mata Soleh memutih dengan cepat, ia terlihat amat sangat kesakitan.

Badan gue bergetar hebat, melihat Soleh, di eksekusi tepat di hadapan gue.

Ketika Soleh ambruk dan tewas, gue bisa melihat dengan jelas siapa orang yang ada di belakang Soleh.

Gege.

Dia memamerkan seringai.

Kedua tangannya berlumuran darah, bajunya hitam namun gue bisa melihat bajunya basah oleh darah. Sepertinya dia sudah membunuh banyak kru LPH.

“Akhirnya….orang yang sudah membunuh Ebet, muncul juga..” ujar Gege sembari merogoh sesuatu dari pinggangnya.

Sebuah pisau yang masih berada di dalam sarungnya. Gege membuka sarungnya dan kini terlihat sebuah pisau besar dengan gerigi tajam.

Gue juga tidak mau kalah. Gue ambil sebuah pisau yang tergeletak dekat kaki. Sebuah pisau dapur berukuran besar.

“Jangan harap lo bakal dapat kematian yang cepat……”

Gege menyeringai.

“Hal yang sama juga berlaku buat elo…”

 

= BERSAMBUNG =

error: Content is protected !!